Apa Itu Sustainable Tourism? Pahami Sebelum Destinasi Favoritmu Hilang Selamanya
SevenStar- Pernahkah kamu membayangkan skenario ini? Kamu menabung
berbulan-bulan, mengajukan cuti di tengah deadline kantor yang menumpuk, hanya
untuk kembali ke pantai favorit masa kecilmu dan menemukannya berubah total.
Airnya keruh, terumbu karangnya mati terinjak-injak,
dan alih-alih suara ombak yang menenangkan, yang terdengar hanya hiruk-pikuk
pedagang asongan dan tumpukan sampah plastik di pesisir.
Rasanya bukan cuma kecewa, tapi ada penyesalan
mendalam: "Kenapa dulu kita tidak menjaganya?"
Rasa penyesalan itu nyata, dan jika kita terus menutup
mata, bukan tidak mungkin anak cucu kita hanya bisa melihat keindahan Raja
Ampat atau Borobudur lewat arsip video digital.
Di sinilah sustainable tourism atau pariwisata
berkelanjutan hadir bukan sebagai tren semata, tapi sebagai sebuah kebutuhan
mendesak.
Kita sering mendengar istilah ini, tapi apakah kita
benar-benar memahaminya?
Jangan sampai kita menjadi generasi terakhir yang bisa
menikmati indahnya alam Indonesia hanya karena kita terlambat peduli. Mari kita
bedah konsep ini lebih dalam sebelum nasi menjadi bubur.
Membedah Konsep
Sustainable Tourism (Bukan Sekadar Ekowisata)
Banyak orang salah kaprah mengira bahwa sustainable
tourism itu sama persis dengan ekowisata (ecotourism). Padahal, cakupannya
jauh lebih luas.
Jika kita ibaratkan sebuah perusahaan, ekowisata itu
seperti satu departemen spesifik, sedangkan sustainable tourism adalah
budaya kerja atau SOP perusahaan secara keseluruhan.
Lantas, apa definisi sebenarnya dari konsep ini? Secara
sederhana, sustainable tourism adalah konsep pariwisata yang
memperhitungkan dampak penuh terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan, baik
saat ini maupun di masa depan.
Tujuannya adalah menyeimbangkan kebutuhan pengunjung,
industri, lingkungan, dan komunitas tuan rumah.
Coba bayangkan sistem kerja di kantor. Jika bos memeras
tenaga karyawan (eksploitasi sumber daya) demi keuntungan cepat (profit sesaat)
tanpa memikirkan kesejahteraan tim (sosial), mungkin bulan ini target tercapai.
Tapi bulan depan? Karyawan burnout, resign massal,
dan perusahaan kolaps. Begitu juga dengan pariwisata.
Jika kita mengeksploitasi alam demi cuan cepat tanpa
memikirkan kelestarian, destinasi itu akan "bangkrut" alias rusak dan
ditinggalkan wisatawan.
Penerapan teori ini menekankan bahwa pariwisata harus
"hidup" selamanya, bukan viral sesaat lalu mati.
Tiga Pilar Utama
(Keseimbangan yang Wajib Ada)
Berdasarkan standar global yang sering dibahas oleh
organisasi seperti UN Tourism atau GSTC, pariwisata berkelanjutan berdiri di
atas tiga pilar utama. Kalau satu saja pincang, ambruklah konsep ini.
1. Lingkungan
(Environmentally Friendly)
Ini adalah aspek yang paling sering dibahas. Intinya
adalah optimalisasi sumber daya alam.
Bukan berarti kita tidak boleh menyentuh alam, tapi
kita harus menjaganya. Ini mirip seperti meminjam barang teman; kita boleh
pakai, tapi harus dikembalikan dalam kondisi yang sama, atau bahkan lebih baik.
Dalam praktiknya di Indonesia, ini berarti menjaga
keanekaragaman hayati. Contoh sederhananya adalah pembatasan jumlah pengunjung
di Pulau Komodo atau Candi Borobudur.
Tujuannya bukan untuk mempersulit wisatawan, tapi untuk
memastikan "aset" berharga ini tidak rusak karena kelebihan kapasitas
(overtourism). Konservasi warisan alam dan pengelolaan limbah yang ketat
menjadi kunci di sini.
2. Sosial Budaya
(Socially & Culturally Acceptable)
Aspek ini sering terlupakan. Sustainable tourism
mewajibkan kita menghormati keaslian sosial-budaya komunitas tuan rumah.
Pernah melihat turis asing yang masuk ke tempat suci
dengan pakaian kurang pantas? Itu contoh pelanggaran pilar ini.
Pariwisata harus melestarikan warisan budaya dan
nilai-nilai tradisional, bukan menggerusnya. Interaksi antara turis dan warga
lokal harus didasari toleransi dan pemahaman.
Di Bali, misalnya, konsep Tri Hita Karana sangat
relevan dengan pilar ini. Wisatawan diajak untuk memahami local wisdom,
bukan sekadar datang, foto-foto, lalu pulang tanpa empati.
3. Ekonomi
(Economically Viable)
Ini poin krusial agar konsep ini realistis. Pariwisata
harus memberikan keuntungan ekonomi jangka panjang bagi semua pihak, terutama
masyarakat lokal.
Jangan sampai hotel bintang lima menjamur, tapi warga
sekitarnya tetap hidup di bawah garis kemiskinan. Istilah kerennya adalah inclusive
growth. Pendapatan pariwisata harus menetes ke bawah (trickle-down
effect).
Uang yang kamu habiskan untuk membeli oleh-oleh
kerajinan tangan atau makan di warung lokal itu jauh lebih berdampak pada sustainable
tourism daripada sekadar membayar tiket masuk resor internasional.
Pemberdayaan UMKM lokal adalah tulang punggung dari
pilar ekonomi ini.
Mengapa Sustainable
Tourism Sangat Penting Sekarang?
Mungkin kamu bertanya, "Ah, ribet banget. Kenapa
nggak liburan biasa aja?" Jawabannya kembali ke analogi investasi versus
belanja impulsif.
Pariwisata massal konvensional itu seperti belanja
impulsif; menyenangkan sesaat, tapi boros dan menghabiskan modal. Sedangkan
pariwisata berkelanjutan adalah investasi jangka panjang.
Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa, tapi
rapuh. Kita melihat bagaimana beberapa destinasi di tanah air sempat "mati
suri" karena sampah atau kerusakan lingkungan yang parah.
Konsep keberlanjutan penting untuk menjamin viabilitas
ekonomi jangka panjang. Jika alam rusak, turis kabur, ekonomi daerah mati.
Sesederhana itu.
Selain itu, tren global menunjukkan pergeseran perilaku
wisatawan. Generasi milenial dan Gen Z cenderung memilih destinasi yang ramah
lingkungan. Riset menunjukkan bahwa wisatawan rela membayar lebih untuk
pengalaman yang etis dan berkelanjutan.
Jadi, bagi para pelaku usaha wisata, menerapkan konsep
ini bukan lagi sekadar amal, tapi strategi bisnis yang cerdas untuk bertahan di
pasar global.
Peran Kita Sebagai
Wisatawan (Traveler)
Kita tidak perlu menjadi aktivis lingkungan garis keras
untuk mendukung gerakan ini. Perubahan kecil dalam gaya traveling kita bisa
berdampak besar.
Bayangkan jika setiap satu dari jutaan wisatawan
membawa botol minum sendiri (tumbler), berapa ton sampah plastik yang bisa
dikurangi per hari?
Berikut beberapa langkah konkret dan sederhana yang
bisa kita lakukan:
- Pilih
Akomodasi Ramah Lingkungan: Cek apakah hotel
tempatmu menginap punya kebijakan hemat energi atau pengelolaan limbah
yang baik.
- Belanja
Lokal: Prioritaskan membeli suvenir buatan
pengrajin setempat dan makan kuliner lokal. Ini memutar roda ekonomi
daerah secara langsung.
- Kurangi
Jejak Karbon: Jika memungkinkan, gunakan
transportasi umum atau berjalan kaki saat mengeksplorasi destinasi.
- Hormati
Aturan Setempat: "Di mana bumi dipijak, di sana
langit dijunjung." Pepatah ini adalah inti dari aspek sosial budaya.
FAQ
1. Apakah liburan dengan konsep sustainable tourism itu lebih mahal?
2. Apa bedanya Sustainable Tourism dengan Ecotourism?
3. Bagaimana cara mengetahui sebuah destinasi benar-benar menerapkan sustainable tourism?
Pada akhirnya, sustainable tourism adalah
tentang mindset. Ini adalah kesadaran bahwa bumi yang kita pijak saat
liburan adalah rumah bagi orang lain dan warisan bagi masa depan.
Kita tentu tidak ingin menjadi generasi yang egois,
yang menghabiskan "jatah" keindahan alam ini sendirian, bukan?
Pariwisata
seharusnya membawa kebahagiaan, bukan kehancuran. Bayangkan betapa leganya
perasaan kita jika 20 atau 30 tahun lagi, kita bisa kembali ke tempat wisata
favorit kita bersama anak cucu, dan tempat itu masih seindah, atau bahkan lebih
indah dari hari ini.
Itu adalah warisan
yang tak ternilai harganya. Mari mulai menjadi wisatawan yang bertanggung jawab
mulai perjalanan berikutnya. Bukan karena terpaksa, tapi karena kita peduli.
📖 Lihat Sumber Informasi dan Gambar
02. Topics: Sustainable Tourism - United Nations Department of Economic and Social Affairs (SDGs)
03. Apa Itu Sustainable Tourism? - MarkPlus Institute
04. Destinasi Wisata Berbasis Sustainable Tourism di Indonesia - Kemenparekraf
05. What is Sustainable Tourism? - Global Sustainable Tourism Council (GSTC)






