Apa Itu Sustainable Tourism? Pahami Sebelum Destinasi Favoritmu Hilang Selamanya

Sustainable Tourism
💡 Ringkasan Artikel: Sustainable tourism adalah konsep pariwisata yang menyeimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi untuk mencegah kerusakan destinasi jangka panjang. Artikel ini membahas pentingnya penerapan konsep tersebut agar keindahan alam dan budaya Indonesia dapat dinikmati generasi mendatang tanpa rasa penyesalan.

SevenStar- Pernahkah kamu membayangkan skenario ini? Kamu menabung berbulan-bulan, mengajukan cuti di tengah deadline kantor yang menumpuk, hanya untuk kembali ke pantai favorit masa kecilmu dan menemukannya berubah total.

Airnya keruh, terumbu karangnya mati terinjak-injak, dan alih-alih suara ombak yang menenangkan, yang terdengar hanya hiruk-pikuk pedagang asongan dan tumpukan sampah plastik di pesisir.

Rasanya bukan cuma kecewa, tapi ada penyesalan mendalam: "Kenapa dulu kita tidak menjaganya?"

Rasa penyesalan itu nyata, dan jika kita terus menutup mata, bukan tidak mungkin anak cucu kita hanya bisa melihat keindahan Raja Ampat atau Borobudur lewat arsip video digital.

Di sinilah sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan hadir bukan sebagai tren semata, tapi sebagai sebuah kebutuhan mendesak.

Kita sering mendengar istilah ini, tapi apakah kita benar-benar memahaminya?

Jangan sampai kita menjadi generasi terakhir yang bisa menikmati indahnya alam Indonesia hanya karena kita terlambat peduli. Mari kita bedah konsep ini lebih dalam sebelum nasi menjadi bubur.

 

Membedah Konsep Sustainable Tourism (Bukan Sekadar Ekowisata)

Sustainable tourism
Pemberdayaan pengrajin lokal Indonesia

Banyak orang salah kaprah mengira bahwa sustainable tourism itu sama persis dengan ekowisata (ecotourism). Padahal, cakupannya jauh lebih luas.

Jika kita ibaratkan sebuah perusahaan, ekowisata itu seperti satu departemen spesifik, sedangkan sustainable tourism adalah budaya kerja atau SOP perusahaan secara keseluruhan.

Lantas, apa definisi sebenarnya dari konsep ini? Secara sederhana, sustainable tourism adalah konsep pariwisata yang memperhitungkan dampak penuh terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan, baik saat ini maupun di masa depan.

Tujuannya adalah menyeimbangkan kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan, dan komunitas tuan rumah.

Coba bayangkan sistem kerja di kantor. Jika bos memeras tenaga karyawan (eksploitasi sumber daya) demi keuntungan cepat (profit sesaat) tanpa memikirkan kesejahteraan tim (sosial), mungkin bulan ini target tercapai.

Tapi bulan depan? Karyawan burnout, resign massal, dan perusahaan kolaps. Begitu juga dengan pariwisata.

Jika kita mengeksploitasi alam demi cuan cepat tanpa memikirkan kelestarian, destinasi itu akan "bangkrut" alias rusak dan ditinggalkan wisatawan.

Penerapan teori ini menekankan bahwa pariwisata harus "hidup" selamanya, bukan viral sesaat lalu mati.

 

Tiga Pilar Utama (Keseimbangan yang Wajib Ada)

Berdasarkan standar global yang sering dibahas oleh organisasi seperti UN Tourism atau GSTC, pariwisata berkelanjutan berdiri di atas tiga pilar utama. Kalau satu saja pincang, ambruklah konsep ini.

1. Lingkungan (Environmentally Friendly)

Sustainable tourism
Konservasi alam sawah terasering

Ini adalah aspek yang paling sering dibahas. Intinya adalah optimalisasi sumber daya alam.

Bukan berarti kita tidak boleh menyentuh alam, tapi kita harus menjaganya. Ini mirip seperti meminjam barang teman; kita boleh pakai, tapi harus dikembalikan dalam kondisi yang sama, atau bahkan lebih baik.

Dalam praktiknya di Indonesia, ini berarti menjaga keanekaragaman hayati. Contoh sederhananya adalah pembatasan jumlah pengunjung di Pulau Komodo atau Candi Borobudur.

Tujuannya bukan untuk mempersulit wisatawan, tapi untuk memastikan "aset" berharga ini tidak rusak karena kelebihan kapasitas (overtourism). Konservasi warisan alam dan pengelolaan limbah yang ketat menjadi kunci di sini.

 

2. Sosial Budaya (Socially & Culturally Acceptable)

Sustainable tourism
Wisata bersepeda ramah lingkungan

Aspek ini sering terlupakan. Sustainable tourism mewajibkan kita menghormati keaslian sosial-budaya komunitas tuan rumah.

Pernah melihat turis asing yang masuk ke tempat suci dengan pakaian kurang pantas? Itu contoh pelanggaran pilar ini.

Pariwisata harus melestarikan warisan budaya dan nilai-nilai tradisional, bukan menggerusnya. Interaksi antara turis dan warga lokal harus didasari toleransi dan pemahaman.

Di Bali, misalnya, konsep Tri Hita Karana sangat relevan dengan pilar ini. Wisatawan diajak untuk memahami local wisdom, bukan sekadar datang, foto-foto, lalu pulang tanpa empati.

 

3. Ekonomi (Economically Viable)

Sustainable tourism
Wisata edukasi budaya lokal

Ini poin krusial agar konsep ini realistis. Pariwisata harus memberikan keuntungan ekonomi jangka panjang bagi semua pihak, terutama masyarakat lokal.

Jangan sampai hotel bintang lima menjamur, tapi warga sekitarnya tetap hidup di bawah garis kemiskinan. Istilah kerennya adalah inclusive growth. Pendapatan pariwisata harus menetes ke bawah (trickle-down effect).

Uang yang kamu habiskan untuk membeli oleh-oleh kerajinan tangan atau makan di warung lokal itu jauh lebih berdampak pada sustainable tourism daripada sekadar membayar tiket masuk resor internasional.

Pemberdayaan UMKM lokal adalah tulang punggung dari pilar ekonomi ini.

 


Mengapa Sustainable Tourism Sangat Penting Sekarang?

Mungkin kamu bertanya, "Ah, ribet banget. Kenapa nggak liburan biasa aja?" Jawabannya kembali ke analogi investasi versus belanja impulsif.

Pariwisata massal konvensional itu seperti belanja impulsif; menyenangkan sesaat, tapi boros dan menghabiskan modal. Sedangkan pariwisata berkelanjutan adalah investasi jangka panjang.

Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa, tapi rapuh. Kita melihat bagaimana beberapa destinasi di tanah air sempat "mati suri" karena sampah atau kerusakan lingkungan yang parah.

Konsep keberlanjutan penting untuk menjamin viabilitas ekonomi jangka panjang. Jika alam rusak, turis kabur, ekonomi daerah mati. Sesederhana itu.

Selain itu, tren global menunjukkan pergeseran perilaku wisatawan. Generasi milenial dan Gen Z cenderung memilih destinasi yang ramah lingkungan. Riset menunjukkan bahwa wisatawan rela membayar lebih untuk pengalaman yang etis dan berkelanjutan.

Jadi, bagi para pelaku usaha wisata, menerapkan konsep ini bukan lagi sekadar amal, tapi strategi bisnis yang cerdas untuk bertahan di pasar global.

 

”Sevenstar

Peran Kita Sebagai Wisatawan (Traveler)

Kita tidak perlu menjadi aktivis lingkungan garis keras untuk mendukung gerakan ini. Perubahan kecil dalam gaya traveling kita bisa berdampak besar.

Bayangkan jika setiap satu dari jutaan wisatawan membawa botol minum sendiri (tumbler), berapa ton sampah plastik yang bisa dikurangi per hari?

Berikut beberapa langkah konkret dan sederhana yang bisa kita lakukan:

  • Pilih Akomodasi Ramah Lingkungan: Cek apakah hotel tempatmu menginap punya kebijakan hemat energi atau pengelolaan limbah yang baik.
  • Belanja Lokal: Prioritaskan membeli suvenir buatan pengrajin setempat dan makan kuliner lokal. Ini memutar roda ekonomi daerah secara langsung.
  • Kurangi Jejak Karbon: Jika memungkinkan, gunakan transportasi umum atau berjalan kaki saat mengeksplorasi destinasi.
  • Hormati Aturan Setempat: "Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung." Pepatah ini adalah inti dari aspek sosial budaya.

 


FAQ

1. Apakah liburan dengan konsep sustainable tourism itu lebih mahal?
Tidak selalu. Meskipun beberapa resor ramah lingkungan (eco-lodge) mematok harga premium, prinsip dasar sustainable tourism justru bisa lebih hemat. Contohnya: menggunakan transportasi umum, makan di warung lokal, dan membawa perlengkapan guna ulang (tumbler/wadah makan) justru menekan pengeluaran dibanding gaya liburan mewah yang boros sumber daya.
2. Apa bedanya Sustainable Tourism dengan Ecotourism?
Ecotourism (ekowisata) adalah sub-bagian dari sustainable tourism yang spesifik berfokus pada wisata alam yang bertanggung jawab. Sementara Sustainable tourism adalah konsep payungnya yang lebih luas, mencakup semua jenis pariwisata (termasuk wisata kota, bisnis, atau budaya) dan menekankan pada keseimbangan tiga pilar: ekonomi, sosial, dan lingkungan secara keseluruhan.
3. Bagaimana cara mengetahui sebuah destinasi benar-benar menerapkan sustainable tourism?
Kamu bisa melihat dari beberapa indikator: apakah ada manajemen sampah yang jelas (tidak ada sampah berserakan), apakah masyarakat lokal terlibat aktif sebagai pengelola/pekerja (bukan hanya penonton), dan apakah ada aturan konservasi yang ketat (misalnya pembatasan pengunjung). Sertifikasi dari lembaga seperti GSTC juga bisa menjadi acuan valid.

 

Pada akhirnya, sustainable tourism adalah tentang mindset. Ini adalah kesadaran bahwa bumi yang kita pijak saat liburan adalah rumah bagi orang lain dan warisan bagi masa depan.

Kita tentu tidak ingin menjadi generasi yang egois, yang menghabiskan "jatah" keindahan alam ini sendirian, bukan?

Pariwisata seharusnya membawa kebahagiaan, bukan kehancuran. Bayangkan betapa leganya perasaan kita jika 20 atau 30 tahun lagi, kita bisa kembali ke tempat wisata favorit kita bersama anak cucu, dan tempat itu masih seindah, atau bahkan lebih indah dari hari ini.

Itu adalah warisan yang tak ternilai harganya. Mari mulai menjadi wisatawan yang bertanggung jawab mulai perjalanan berikutnya. Bukan karena terpaksa, tapi karena kita peduli.


⚠️ Panduan ini disusun berdasarkan gabungan berbagai sumber referensi serta keyakinan dan pemahaman penulis. Oleh karena itu, pembaca disarankan menggunakan panduan ini sebagai referensi umum dan melakukan penyesuaian sesuai kebutuhan masing-masing.
📖 Lihat Sumber Informasi dan Gambar
Referensi Tulisan: 01. Sustainable Tourism - Wikipedia
02. Topics: Sustainable Tourism - United Nations Department of Economic and Social Affairs (SDGs)
03. Apa Itu Sustainable Tourism? - MarkPlus Institute
04. Destinasi Wisata Berbasis Sustainable Tourism di Indonesia - Kemenparekraf
05. What is Sustainable Tourism? - Global Sustainable Tourism Council (GSTC)
✍️ Ditulis oleh  Sholikhatun Nikmah (snn)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *