Waspada! Hobi Makan Saat Stres Bisa Jadi Sinyal Gangguan Mental
Emotional eating adalah kondisi ketika seseorang menggunakan makanan sebagai pelarian untuk meredam emosi negatif, yang jika dibiarkan terus-menerus dapat berkembang menjadi gangguan makan serius seperti Binge Eating Disorder.
Sevenstar
- Pulang kantor setelah kena tegur atasan, terjebak macet berjam-jam, atau baru
saja bertengkar dengan pasangan sering kali membuat tangan kita otomatis meraih
kantong keripik atau memesan martabak manis porsi besar.
Rasanya,
hanya makanan yang bisa mengerti beratnya beban hari itu. Fenomena ini bukan
sekadar masalah lapar, melainkan respons psikologis yang sangat umum dialami
banyak orang di tengah tekanan hidup yang tinggi.
Kita
sering menyebutnya sebagai "comfort food", namun tanpa disadari,
makanan tersebut justru menjadi pelarian dari masalah yang sebenarnya.
Dalam
panduan ini, kita akan membedah mengapa otak kita seolah memprogram tubuh untuk
mencari asupan gula saat merasa tertekan.
Memahami
hubungan antara kesehatan mental dan pola makan bukan hanya soal menjaga berat
badan, tapi tentang bagaimana kita menghargai diri sendiri.
Mari kita
telusuri lebih dalam apakah kebiasaan makan impulsif kamu masih dalam batas
wajar atau sudah menjadi lampu merah bagi kesehatan mental.
Apa Bedanya Lapar
Fisik dan Lapar Emosi?
Pernahkah
kamu merasa perut sangat kosong tapi bingung ingin makan apa? Atau sebaliknya,
perut terasa penuh tapi lidah sangat menginginkan cokelat tertentu? Membedakan
keduanya adalah langkah awal untuk mengendalikan pola makan.
Lapar
fisik biasanya muncul secara bertahap. Perut mungkin berbunyi atau kamu merasa
sedikit lemas karena tingkat energi menurun.
Karakteristik
utamanya adalah fleksibilitas; kamu biasanya bersedia makan apa saja yang
tersedia untuk mengenyangkan perut, baik itu nasi sayur maupun buah. Setelah
makan, ada rasa puas dan kamu akan berhenti dengan sendirinya.
Sebaliknya,
lapar emosional datang seperti serangan mendadak. Ia tidak peduli apakah kamu
baru saja makan besar satu jam yang lalu.
Ciri
khasnya adalah keinginan spesifik pada makanan tertentu yang biasanya tinggi
gula, garam, atau lemak.
Jika kamu
merasa harus makan "sekarang juga" dan merasa tidak bisa berhenti
meskipun perut sudah begah, itu adalah sinyal kuat bahwa emosi kamu yang sedang
berbicara, bukan lambung kamu.
Setelahnya,
alih-alih merasa kenyang, yang muncul justru rasa bersalah atau menyesal.
Membedah Mekanisme
Makan Impulsif Akibat Stres
Secara
ilmiah, tubuh kita memiliki sistem alarm yang cukup rumit. Saat kamu merasa
tertekan atau cemas, kelenjar adrenal akan melepaskan hormon kortisol. Hormon
ini sebenarnya berfungsi untuk memberikan energi instan agar kita bisa
menghadapi ancaman.
Namun, di
era modern di mana ancamannya berupa tumpukan pekerjaan, kortisol justru
meningkatkan nafsu makan kita secara drastis.
Makanan
manis dan berlemak adalah target utama karena jenis makanan ini memicu
pelepasan dopamin di otak.
Dopamin
adalah hormon rasa senang yang memberikan efek tenang sesaat, mirip dengan efek
menenangkan setelah kita mendapatkan pujian. Inilah yang membuat makanan
menjadi mekanisme koping atau alat pertahanan diri.
Kamu makan
bukan karena butuh nutrisi, tapi karena ingin membungkam rasa sedih, kesepian,
atau kebosanan yang terasa menyakitkan.
Berikut
adalah beberapa alasan mengapa kita sering melarikan diri pada makanan:
- Peredam Emosi Negatif: Makanan berfungsi sebagai
"obat penenang" sementara untuk mengalihkan pikiran dari masalah
yang sulit dihadapi.
- Efek Nostalgia: Kadang kita mencari makanan
tertentu karena mengingatkan kita pada masa kecil yang aman dan bahagia.
- Kurangnya Alternatif Koping: Banyak dari kita tidak
diajarkan cara mengelola emosi dengan sehat, sehingga makan menjadi jalan
pintas termudah.
- Kelelahan Keputusan: Setelah seharian mengambil
keputusan sulit di kantor, otak kehilangan kekuatan untuk menolak godaan
makanan tidak sehat di malam hari.
![]() |
| Ilustrasi otak dan lambung memicu rasa lapar |
Kapan Perilaku Ini
Berubah Menjadi Gangguan Medis?
Ada garis
tipis antara sesekali makan berlebih dengan gangguan makan yang terdiagnosa
secara klinis.
Kamu perlu
mulai waspada jika perilaku makan ini sudah mulai mengontrol hidup kamu, bukan
lagi kamu yang mengontrol makanan. Salah satu yang paling sering muncul adalah Binge
Eating Disorder (BED).
Ciri utama
dari gangguan ini adalah hilangnya kendali. Seseorang mungkin makan dalam
jumlah yang sangat banyak dalam waktu singkat, bahkan sampai merasa sakit
secara fisik.
Perilaku
ini biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena adanya rasa malu yang
luar biasa.
Jika kamu
sering merasa kehilangan kendali saat makan dan hal ini terjadi setidaknya
sekali seminggu dalam jangka waktu lama, ini adalah peringatan serius.
Siklus
setan yang sering terjadi adalah sebagai berikut:
- Munculnya pemicu stres (masalah
kerja atau hubungan).
- Timbulnya dorongan kuat untuk
makan sebagai pelarian.
- Proses makan berlebih secara
impulsif.
- Munculnya rasa bersalah, benci
pada diri sendiri, dan kecemasan akan berat badan.
- Rasa bersalah tersebut memicu
stres baru, yang akhirnya kembali ke poin pertama.
Jika
dibiarkan, siklus ini tidak hanya merusak fisik seperti risiko obesitas atau
diabetes, tetapi juga mengikis kesehatan mental secara perlahan. Kamu akan
merasa terjebak dalam tubuh dan pikiran yang tidak sinkron.
Solusi Berdamai
dengan Makanan Lewat Mindful Eating
Keluar
dari jeratan emotional eating tidak bisa dilakukan secara instan dengan diet
ketat. Justru, diet yang terlalu mengekang sering kali memicu kekambuhan yang
lebih parah.
Solusinya adalah membangun hubungan yang sehat
melalui praktik Mindful Eating atau makan dengan kesadaran penuh.
Langkah
pertama adalah mengenali pemicu kamu. Cobalah untuk mulai menulis jurnal emosi.
Sebelum
mengambil makanan, tanyakan pada diri sendiri: "Apa yang sedang aku
rasakan saat ini? Apakah aku lapar, atau aku hanya sedang bosan?".
Menyadari perasaan sendiri adalah separuh dari kemenangan.
Beberapa
strategi praktis yang bisa kamu coba antara lain:
- Aturan 10 Menit: Saat keinginan makan emosional
muncul, tunggulah selama 10 menit. Gunakan waktu ini untuk melakukan
aktivitas lain seperti minum segelas air putih atau berjalan kaki singkat
di sekitar ruangan. Sering kali, dorongan tersebut akan mereda.
- Jauhkan Godaan: Jangan menyimpan stok makanan
ringan dalam jumlah besar di tempat yang mudah terlihat. Jika harus
mengambil usaha lebih untuk mendapatkan makanan tersebut, kamu punya waktu
lebih lama untuk berpikir jernih.
- Nikmati Setiap Suapan: Saat makan, matikan televisi
atau simpan ponsel kamu. Fokuslah pada rasa, tekstur, dan aroma makanan.
Ini membantu otak menerima sinyal kenyang dengan lebih baik.
- Berhenti Memberi Label: Jangan sebut makanan sebagai
"jahat" atau "dosa". Anggaplah makanan sebagai bahan
bakar dan sumber energi. Menghilangkan label negatif membantu mengurangi
rasa bersalah saat kamu sesekali menikmati makanan manis.
Ingatlah
bahwa makanan bukan terapis kamu. Makanan bisa mengenyangkan perut, tapi ia
tidak bisa menyelesaikan masalah di kantor atau menyembuhkan luka hati.
Menemukan
cara lain untuk mengelola stres, seperti hobi atau bercerita dengan teman,
adalah investasi jangka panjang yang jauh lebih manis daripada sepotong kue
cokelat.
Kapan Harus Mencari
Bantuan Profesional?
Mengubah
kebiasaan psikologis yang sudah mengakar selama bertahun-tahun memang tidak
mudah. Akan ada saatnya kamu berhasil, dan ada saatnya kamu kembali pada
kebiasaan lama.
Itu adalah
bagian dari proses belajar. Validasi perasaan kamu dan jangan terlalu keras
pada diri sendiri.
Namun,
jika kamu merasa bahwa makanan sudah mulai mengganggu fungsi sehari-hari,
membuat kamu menarik diri dari lingkungan sosial, atau menyebabkan depresi,
jangan ragu untuk mencari bantuan.
Berkonsultasi
dengan psikolog atau psikiater bukan berarti kamu "sakit", melainkan
sebuah langkah berani untuk mengambil alih kendali atas hidupmu.
Para ahli dapat membantu memberikan terapi perilaku kognitif (CBT) yang terbukti efektif untuk mengatasi masalah pola makan dan manajemen stres.
FAQ
- Apakah emotional eating selalu
menyebabkan obesitas?
Tidak selalu, namun jika frekuensinya sering dan melibatkan makanan tinggi
kalori, risiko kenaikan berat badan sangat besar.
- Apa bedanya emotional eating
dengan hobi kulineran?
Hobi kulineran dilakukan untuk menikmati rasa secara sadar, sedangkan
emotional eating dilakukan secara impulsif untuk menutupi perasaan
negatif.
- Bagaimana cara menahan
keinginan makan saat malam hari karena stres? Cobalah teknik relaksasi
seperti pernapasan dalam atau minum teh herbal hangat tanpa gula untuk
menenangkan saraf.
- Apakah anak-anak bisa mengalami
emotional eating?
Ya, anak-anak bisa meniru pola koping orang dewasa atau menggunakan
makanan sebagai pelipur lara jika mereka merasa tidak aman.
- Berapa lama waktu yang
dibutuhkan untuk sembuh dari kebiasaan ini? Setiap orang berbeda, namun
konsistensi dalam mempraktikkan mindful eating biasanya menunjukkan hasil
dalam beberapa minggu hingga bulan.
02. Emotional Eating: Cara Berhenti Makan Berlebihan Saat Sedang Stres - Halodoc
.webp)

