Cara Buat CV yang Dilirik HRD, Jangan Kalah Sebelum Perang!
Pernah nggak kamu ngerasa udah ngirimin puluhan email
lamaran magang, tapi notifikasi di HP sepi-sepi saja?
Rasanya pasti campur aduk; bingung, lelah, dan mulai
meragukan kemampuan diri sendiri.
Padahal, bisa jadi masalahnya bukan karena kamu kurang
pintar atau kurang jago, tapi karena "jembatan" yang kamu bangun
untuk menuju perusahaan itu (yaitu CV kamu) belum cukup kokoh untuk meyakinkan
mereka.
Mencari tempat magang di era sekarang memang kompetitif
banget. Kamu nggak cuma bersaing sama teman sekelas, tapi juga sama mahasiswa
dari kampus lain di seluruh Indonesia.
Di sinilah peran CV (Curriculum Vitae) jadi krusial. CV
itu bukan sekadar daftar riwayat hidup atau biodata formalitas belaka. CV
adalah "senjata" pertama kamu di medan perang rekrutmen.
Banyak mahasiswa yang terjebak berpikir bahwa CV harus
heboh, penuh warna, atau punya desain grafis tingkat dewa biar dilirik.
Padahal, menurutku, membuat CV itu bukan soal desain
paling keren, tapi soal relevansi dan kejelasan.
HRD cuma punya waktu singkat buat screening, jadi CV
harus langsung nunjukin siapa kita, apa kelebihan kita, dan kenapa kita layak
dipanggil.
Yuk, kita bedah bareng-bareng cara menyusun CV yang
nggak cuma "aman", tapi juga powerful di mata HRD.
Pahami Dulu, HRD Cuma
Punya "6 Detik" Emas
Jujur aja, realita di meja kerja HRD itu sangat padat.
Untuk satu posisi magang yang dibuka, pelamarnya bisa ratusan.
Secara manusiawi, mustahil bagi seorang rekruter untuk
membaca kata per kata dari setiap lembar CV yang masuk.
Studi dan fakta lapangan sering menyebutkan bahwa
rata-rata rekruter hanya menghabiskan waktu sekitar 6 detik untuk melakukan
screening awal pada CV kamu.
Iya, cuma 6 detik. Itu waktu yang sangat singkat untuk
menentukan nasib lamaranmu: lanjut ke tumpukan "Interview" atau masuk
ke folder "Rejected".
Kalau dalam waktu sesingkat itu mata mereka gagal
menangkap kata kunci yang dicari, atau malah pusing melihat layout yang
berantakan, besar kemungkinan CV kamu akan dilewatkan.
Jadi, pola pikir yang harus kamu ubah sekarang adalah:
Fungsi utama CV adalah memudahkan HRD, bukan memukau mereka dengan seni visual
(kecuali kamu melamar posisi desainer).
CV yang rapi, ringkas, dan tepat sasaran justru jauh lebih dihargai daripada CV berlembar-lembar tapi isinya nggak fokus.
![]() |
| Mahasiswa mengedit resume di perpustakaan kampus. |
Anatomis CV yang
"Nendang" Apa yang Wajib Masuk?
Kesalahan umum mahasiswa atau fresh graduate adalah
memasukkan semua hal.
Juara lomba makan kerupuk waktu 17-an atau riwayat TK
nggak perlu dimasukkan ya.
Fokuslah pada kualitas, bukan kuantitas. Berikut adalah
struktur daging yang wajib ada:
1. Header dan Identitas
Diri yang Efektif
Jangan habiskan tempat. Cukup cantumkan:
- Nama Lengkap: Gunakan font yang sedikit lebih besar dan tebal.
- Domisili: Cukup Kota dan Provinsi (misal: Jakarta Selatan, DKI Jakarta). Alamat lengkap RT/RW berisiko disalahgunakan dan tidak relevan untuk tahap awal.
- Kontak: Nomor HP yang terhubung WhatsApp dan alamat email profesional. Tolong, hindari email masa kecil seperti fansberatnaruto99@gmail.com. Buatlah email baru dengan format nama.depan@gmail.com.
- Link Profesional: Tautkan profil LinkedIn atau portofolio daringmu.
2. Deskripsi Diri
(Professional Summary)
Ini adalah "iklan baris" atau elevator pitch
tentang dirimu. Hindari kalimat klise dan pasif.
- Jangan tulis: "Saya pekerja keras, jujur, dan ingin mencari pengalaman." (Ini terlalu umum).
- Tulis begini: "Mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 6 dengan minat kuat di bidang Digital Marketing. Memiliki pengalaman mengelola media sosial organisasi kampus dan meningkatkan engagement hingga 20%. Siap belajar dan berkontribusi dalam strategi konten kreatif."
- Lihat bedanya? Yang kedua lebih spesifik, punya angka (kuantitatif), dan menunjukkan apa yang bisa kamu tawarkan.
3. Pengalaman: Gunakan
Rumus "Action + Result"
Ini bagian paling vital. Kalau kamu menulis pengalaman
organisasi atau kepanitiaan, jangan hanya menyalin jobdesc.
HRD nggak mau tahu apa tugasmu, mereka mau tahu apa
dampak yang kamu berikan. Gunakan pola: Apa yang kamu lakukan + Apa hasilnya.
- Contoh Biasa: "Menjadi koordinator dana usaha."
Contoh Powerfull: "Mengelola penggalangan dana
usaha dan berhasil mengumpulkan Rp 15.000.000 dalam 2 bulan untuk operasional
acara, melampaui target awal sebesar 10%."
4. Pendidikan dan IPK
Tuliskan jurusan, nama universitas, dan tahun
masuk-lulus (atau prediksi lulus). Soal IPK, jika di atas 3.00, cantumkan saja.
Itu menunjukkan tanggung jawabmu sebagai mahasiswa.
Tapi kalau di bawah itu dan tidak diminta spesifik,
boleh tidak dicantumkan, asalkan pengalamanmu kuat.
Seni Memilih Format ATS
Friendly vs Kreatif
Kamu pasti sering dengar perdebatan ini di media
sosial. Mana yang lebih baik? Jawabannya: Tergantung ke mana dan bagaimana kamu
melamarnya.
Kapan Pakai CV ATS
Friendly?
Sistem ATS (Applicant Tracking System) adalah software
yang dipakai perusahaan besar untuk menyeleksi CV secara otomatis berdasarkan
kata kunci. Kamu wajib pakai format ini jika:
- Melamar lewat website perusahaan (BUMN, Multinasional, Unicorn).
- Melamar lewat job portal (LinkedIn, Glints, Jobstreet, Kalibrr).
- Melamar ke industri yang formal/korporat (Perbankan, Hukum, Administrasi).
Ciri khas CV ATS Friendly:
- Latar putih bersih, tulisan hitam.
- Font standar yang mudah dibaca mesin (Arial, Calibri, Helvetica, Roboto).
- Tidak ada elemen grafis rumit (kolom, tabel, grafik batang skill, ikon gambar).
- Format file PDF (teks bisa di-block/copy, bukan hasil scan gambar).
![]() |
| Mahasiswi fokus mengerjakan CV magang di sebuah kedai kopi. |
Kapan Pakai CV Kreatif?
CV kreatif yang berwarna dan punya elemen desain boleh
digunakan jika:
- Melamar ke industri kreatif (Agensi Iklan, Media, Production House).
- Melamar posisi spesifik seperti Desainer Grafis, Video Editor, atau Social Media Specialist.
- Dikirim langsung ke email pribadi HRD atau User (atasan). Namun ingat, "kreatif" bukan berarti norak.
- Tetap utamakan keterbacaan (readability). Jangan sampai desain malah menutupi informasi penting.
Tantangan Klasik
"Kak, Aku Nggak Punya Pengalaman Kerja"
Tenang, jangan insecure duluan. HRD tahu kok kalau kamu
melamar posisi magang, yang berarti kamu adalah pemula.
Mereka tidak mengharapkan kamu punya pengalaman
manajerial 5 tahun. Yang mereka cari adalah potensi, inisiatif, dan kemauan
belajar.
Kalau kolom "Pengalaman Kerja" kamu kosong,
isi dengan:
- Pengalaman Organisasi/Volunteer: Ini menunjukkan kemampuan bekerja dalam tim dan kepemimpinan.
- Proyek Perkuliahan: Pernah bikin makalah riset, business plan, atau program sederhana buat tugas kuliah? Masukkan! Itu bukti kamu punya hard skill.
- Sertifikasi & Kursus: Ikut webinar, bootcamp, atau kursus online (walau gratisan) menunjukkan kamu anak yang proaktif.
- Soft Skill Relevan: Komunikasi, manajemen waktu, adaptasi. Tapi buktikan lewat contoh aktivitas di poin-poin sebelumnya.
Checklist Terakhir,
Jangan Jatuh di Lubang Sepele
Sebelum menekan tombol "Kirim", coba lakukan
quality control mandiri. Hal-hal kecil ini sering jadi alasan kenapa CV
langsung dibuang:
- Typo (Salah Ketik): Ini fatal. Menulis "Detail Oriented" tapi di CV-nya banyak typo adalah ironi yang menyedihkan. Baca ulang pelan-pelan.
- Nama File: Jangan kirim file dengan nama "CV.pdf" atau "Document1.pdf". Bayangkan betapa pusingnya HRD mencari filemu kalau diunduh. Gunakan format: CV_Nama Lengkap_Posisi Magang.
- Ukuran File: Pastikan ukuran PDF kamu tidak lebih dari 1MB atau 2MB. File yang terlalu besar kadang gagal diunggah atau malas diunduh oleh rekruter yang koneksinya terbatas.
- Foto (Opsional): Jika diminta atau industri kreatif, pasang foto profesional (baju rapi, senyum ramah, latar polos).
Jangan pakai foto selfie di mobil, foto wisuda yang
di-crop ramai-ramai, atau foto dengan filter aplikasi yang berlebihan.
FAQ
1. Perlu nggak sih pakai foto di CV?
2. Berapa halaman ideal untuk CV Magang?
3. Lebih baik pakai Bahasa Indonesia atau Inggris?
CV hanyalah selembar kertas (atau file digital) yang
mencoba merangkum hidupmu dalam beberapa poin singkat.
Tapi, selembar kertas inilah yang menentukan langkah
pertamamu di dunia profesional.
Membuat CV yang baik memang butuh waktu, riset, dan
ketelitian.
Anggaplah proses menyusun CV ini sebagai momen refleksi
untuk menghargai setiap hal kecil yang sudah kamu pelajari selama kuliah.
Jangan berkecil hati kalau belum langsung dapat
panggilan. Terus perbaiki, sesuaikan dengan posisi yang dilamar, dan jangan
lupa berdoa.
Kamu sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyiapkan
"senjata" terbaikmu, sisanya biarkan waktu dan rezeki yang menjawab.
📖 Lihat Sumber Informasi
02. Detik Bali - 10 Tips Membuat CV yang Efektif
03. Sevima - CV ATS Friendly Cara Anti Ribet
04. Glints - Cara Membuat CV yang Menarik




