Mengapa Etika Peserta Didik Kian Tergerus Zaman?

Fenomena etika peserta didik yang mulai
luntur menjadi sorotan publik.
Saat ini, tidak sedikit siswa yang menunjukkan perilaku kurang sopan kepada guru, melanggar aturan sekolah, bahkan terlibat dalam kasus bullying digital.
Hal ini
menimbulkan kekhawatiran, bukan hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di
tengah masyarakat. Siapa yang bertanggung jawab atas kemerosotan ini? Mengapa
nilai etika seolah terkikis oleh perkembangan zaman, dan langkah apa yang harus
dilakukan untuk memulihkannya?
Gejala Lunturnya Etika Peserta Didik
Etika di
Sekolah yang Mulai Memudar
Perilaku tidak hormat kepada guru, keterlibatan dalam tawuran, hingga pelanggaran tata tertib kini bukan lagi kasus langka. Banyak guru dan tenaga pendidik mengeluhkan menurunnya sikap hormat siswa.
Ini menunjukkan adanya kemerosotan
nilai karakter, seperti tanggung jawab, empati, dan kesopanan di ruang-ruang
kelas.
Pengaruh
Dunia Digital
Paparan media
sosial dan konten daring yang tidak terkontrol telah menggeser orientasi nilai
banyak peserta didik. Tren gaya hidup instan, popularitas semu, serta
glorifikasi konten negatif membuat nilai-nilai etika seperti sopan santun,
integritas, dan tanggung jawab semakin dikesampingkan.
Penyebab Utama Kemerosotan Etika
Kurangnya
Keteladanan di Lingkungan Keluarga
Orang tua
adalah pendidik pertama. Namun, dalam banyak kasus, anak justru tidak mendapat
pengawasan maupun teladan yang baik dari keluarga. Komunikasi yang minim dan
pemberian gadget tanpa batas mempercepat penurunan nilai moral.
Sekolah Belum
Menjadi Tempat Pembentukan Karakter
Pendidikan
karakter seringkali belum menjadi prioritas utama dalam proses belajar. Banyak
guru yang masih berfokus pada pencapaian akademik, tanpa menanamkan nilai-nilai
etis secara menyeluruh. Kurikulum pun masih minim dalam mengintegrasikan
pendidikan karakter secara kontekstual.
Globalisasi
dan Budaya Materialisme
Budaya instan
yang dibawa oleh arus globalisasi menjadikan banyak peserta didik lebih
mementingkan pencitraan dan kesenangan sesaat daripada kerja keras, kejujuran,
dan etika. Hal ini menjadi tantangan besar dalam menjaga moral pelajar.
Data dan Pandangan Ahli
Penelitian Fakultas Agama Islam
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (2025) mengungkap bahwa remaja merupakan
kelompok yang paling terdampak oleh degradasi moral di era digital. Nilai sopan santun dan religiusitas mengalami
penurunan signifikan.
Menurut
psikolog anak, Dr. Amanda Smith:
"Kurangnya
perhatian emosional dari orang tua dan minimnya batasan dalam penggunaan
teknologi menjadikan anak-anak kehilangan pijakan moral."
Peneliti juga
mencatat bahwa norma sosial seperti kesopanan kini hanya dijalankan secara
formalitas, bukan karena pemahaman dan kesadaran nilai.
Dampak Langsung pada Dunia Pendidikan
- Menurunnya
kualitas hubungan sosial: Siswa
tidak lagi memiliki rasa hormat yang kuat terhadap guru dan teman sekelas.
- Integritas
akademik terganggu:
Plagiarisme dan ketidaksungguhan dalam menyelesaikan tugas menjadi hal
yang umum.
- Lingkungan
belajar tidak kondusif: Kelas
menjadi tempat yang tidak aman secara emosional karena adanya kekerasan
verbal maupun non-verbal.
Jika tidak segera ditangani, situasi ini bisa mengikis nilai luhur pendidikan dan merusak masa depan generasi penerus bangsa.

Strategi Pemulihan Nilai Etika
Integrasi
Pendidikan Karakter
Pendidikan
karakter harus menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar. Penguatan
nilai-nilai seperti tanggung jawab, empati, disiplin, dan kerja sama perlu
dihadirkan dalam setiap pelajaran, khususnya di pelajaran Pendidikan Pancasila
dan Kewarganegaraan (PPKn).
Peran Orang
Tua sebagai Role Model
Orang tua
harus aktif menjadi teladan bagi anak-anaknya. Mulai dari penggunaan bahasa,
cara menyelesaikan konflik, hingga perilaku digital. Pengawasan gadget juga
perlu dilakukan dengan komunikasi yang terbuka dan penuh empati.
Kolaborasi
Semua Pihak
Pemulihan
etika tidak bisa dilakukan satu pihak saja. Sekolah, keluarga, pemerintah,
hingga komunitas harus bersinergi dalam menciptakan lingkungan yang menjunjung
tinggi nilai-nilai moral.
Literasi
Digital Etis
Program
literasi digital penting agar peserta didik mampu mengenali dan menyaring
informasi yang bermanfaat. Edukasi tentang etika bermedia sosial, termasuk
dampak cyberbullying dan hoaks, perlu diberikan sejak dini.
Saatnya Bertindak
Etika peserta
didik bukanlah aspek pelengkap dalam pendidikan. Ia adalah fondasi penting
dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bermoral. Dalam
era digital yang penuh tantangan ini, semua pihak harus mengambil bagian untuk
menjaga dan membina nilai etika peserta didik.
Masa depan
bangsa ada di tangan mereka. Maka sudah seharusnya kita bertanya: Jika bukan
sekarang kita memulihkan etika, kapan lagi?
FAQ Seputar Etika Peserta Didik
Apa saja contoh lunturnya etika peserta didik
di sekolah?
Contoh paling nyata adalah siswa tidak
menghormati guru, terlambat masuk kelas tanpa alasan, melakukan kekerasan
verbal, hingga menyebar konten negatif melalui media sosial.
Bagaimana peran sekolah dalam membentuk etika
siswa?
Sekolah berperan penting melalui
kurikulum berbasis karakter, keteladanan guru, dan lingkungan belajar yang
mendukung pembentukan nilai-nilai moral.
Apa peran
teknologi dalam penurunan etika peserta didik?
Teknologi
bisa menjadi pedang bermata dua. Tanpa bimbingan, peserta didik dapat terpapar
konten yang menurunkan moral dan membentuk pola pikir konsumtif serta permisif.
Apakah etika
bisa diajarkan di luar mata pelajaran khusus?
Tentu. Etika
bisa dan harus diajarkan dalam semua aktivitas sekolah, baik di kelas maupun
kegiatan ekstrakurikuler, melalui pembiasaan dan penguatan karakter secara
menyeluruh.

