Cara Riset Pasar Bisnis Wisata, Panduan Teknis G.Trends dan OTA


Cara Riset Pasar Bisnis Wisata
💡 Ringkasan Artikel: Melakukan riset pasar digital sebelum membuka bisnis wisata sangat krusial untuk memvalidasi ide, memahami target audiens, dan mencegah kerugian finansial akibat keputusan yang hanya didasari insting. Dengan memanfaatkan data digital dan analisis kompetitor, pengusaha dapat menyusun strategi yang lebih akurat dan meminimalkan risiko kegagalan bisnis.

Sevenstar Indonesia- Jujur deh, siapa sih yang nggak tergiur punya bisnis wisata sendiri? Bayangannya pasti indah banget: punya glamping estetik di pinggir bukit, kafe dengan view sawah yang hijau, atau wahana bermain yang setiap akhir pekan dipenuhi gelak tawa pengunjung.

Di kepala kita, kalkulator keuntungan sudah berjalan otomatis. "Kalau tiketnya 50 ribu, yang datang 100 orang sehari, wah sebulan sudah bisa balik modal nih!"

Tapi, tunggu sebentar. Mari kita tarik napas dan bicara realita.



Banyak dari kita terjebak dalam euforia "memiliki ide", tapi lupa memvalidasi apakah ide itu "dibutuhkan".

Kamu pasti sudah tahu kan, banyak wisata yang tutup setelah viral sesaat? Nah, pertanyaannya sekarang: gimana cara mencegahnya secara teknis? Kita bedah alat-alatnya di sini.

Panduan ini bukan mau menakut-nakuti kamu, tapi justru ingin menjagamu. Anggaplah tulisan ini sebagai obrolan santai antar teman agar kamu nggak masuk ke jurang kerugian yang sebenernya bisa dihindari. Yuk, kita bedah kenapa riset digital itu nyawanya bisnis wisatamu.

 

Jangan Cuma Mengandalkan "Feeling" Anak Lokal

Seringkali kita merasa sudah paling tahu daerah kita sendiri. "Ah, aku kan lahir dan besar di sini. Aku tahu kok orang-orang sukanya apa."

Hati-hati, kalimat itu jebakan. Merasa tahu dan benar-benar tahu berdasarkan data adalah dua hal yang berbeda. Perilaku wisatawan itu dinamis banget dan berubah sangat cepat. Apa yang laku tahun lalu, belum tentu dilirik tahun ini.

Dulu, orang mungkin suka wisata yang penuh spot foto buatan warna-warni (ingat zaman kampung warna-warni?). Sekarang? Trennya bergeser ke healing, mencari ketenangan, alam yang natural, dan pengalaman otentik.

Kalau kamu masih pakai insting lama dan nekat bikin spot foto norak di tengah hutan pinus yang asri, bisa jadi kamu malah dihujat netizen karena dianggap merusak alam.

Di sinilah data masuk sebagai penyelamat. Kita butuh fakta, bukan asumsi. Riset pasar membantu kita melihat peta persaingan dengan kacamata yang jernih, bukan dengan kacamata kuda yang hanya fokus pada keinginan kita sendiri.

 

Mulai dari Mana? Manfaatkan Jejak Digital!

Cara Riset Pasar Bisnis Wisata
Tempat wisata instagramable yang terbengkalai

"Tapi riset pasar kan mahal? Harus sewa konsultan?"

Nggak selalu. Di era digital ini, kamu bisa jadi detektif untuk bisnismu sendiri. Alat-alatnya sudah ada di genggamanmu, gratis pula.

Coba deh buka GoogleTrends. Ketik kata kunci yang berhubungan dengan ide bisnismu. Misalnya kamu mau bikin "Wisata Petik Stroberi". Lihat grafiknya dalam setahun terakhir.

Apakah trennya naik, stabil, atau malah terjun bebas? Kalau tren pencariannya turun drastis, mungkin pasar sudah jenuh. Tapi kalau grafiknya naik, terutama di musim-musim liburan, itu lampu hijau buatmu.

Selain itu, lakukan apa yang disebut Social Listening. Ini cara keren buat bilang: "kepoin omongan orang di medsos". Coba cari destinasi wisata kompetitor atau yang mirip dengan idemu di TikTok atau Instagram. Jangan cuma lihat videonya, tapi baca kolom komentarnya.

Di sana ada harta karun informasi. Kamu bakal nemu keluhan jujur seperti:

  • "Tempatnya bagus, tapi panas banget nggak ada peneduh."
  • "Kapok ke sini, jalannya rusak bikin mobil kandas."
  • "Makanannya mahal, rasanya standar banget."

Nah, keluhan-keluhan itu adalah peluang emas buat kamu!

Kalau kamu bisa bikin tempat wisata yang adem, akses jalannya mulus, dan makanannya enak dengan harga masuk akal, kamu sudah menang satu langkah dari kompetitor bahkan sebelum kamu buka. Kamu menjawab masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh kompetitor.

 

Mengintip Tetangga: Analisis Kompetitor via OTA

Pernah nggak kepikiran buat ngecek Online Travel Agent (OTA) kayak Traveloka, Tiket.com, atau TripAdvisor sebelum bikin bisnis plan? Kalau belum, coba lakukan sekarang.

Cari tempat wisata di sekitarmu, lalu filter ulasannya. Fokuslah ke ulasan bintang 1 dan 2. Kenapa? Karena di situlah letak kejujuran yang paling brutal. Brosur dan video promosi bisa bohong, tapi kekecewaan pelanggan jarang dibuat-buat.

Misalnya, kamu mau buka vila keluarga. Ternyata di kompetitor sebelah, banyak yang komplain soal "air panas nggak nyala" atau "banyak nyamuk".

Dari data sederhana ini, kamu bisa menyusun strategi operasional: pastikan sistem water heater kamu prima dan siapkan manajemen pengendalian hama yang bagus. Riset pasar itu sesederhana belajar dari kesalahan orang lain supaya kita nggak perlu mengalaminya sendiri.

 

Kenali Siapa yang Bakal Datang (Jangan Serakah!)

Salah satu penyakit pebisnis pemula adalah ingin merangkul semua orang. "Target pasarnya siapa?" dijawab "Semua umur, dari bayi sampai lansia."

Waduh, ini bahaya. Dalam marketing, kalau kamu mencoba bicara pada semua orang, kamu malah nggak didengar oleh siapa-siapa. Kamu harus spesifik.

Coba tanya ke dirimu sendiri: Siapa yang paling mungkin keluar uang buat ide wisataku ini? Apakah Gen Z yang hobi ngonten? Atau keluarga muda yang bawa balita? Atau mungkin komunitas pensiunan yang cari ketenangan?

Jawabannya akan menentukan segalanya.

  • Kalau targetmu Gen Z, kamu butuh WiFi kencang, colokan listrik banyak, kopi enak, dan sudut-sudut estetik. Musiknya mungkin yang lagi hits di Spotify Top 40.
  • Kalau targetmu Keluarga, lupakan musik jedag-jedug. Kamu butuh toilet yang bersih dan luas (bisa buat ganti popok), jalan yang rata buat stroller, dan menu makanan yang ramah anak (nggak cuma pedas-pedasan).

Tanpa riset, kamu mungkin bakal bikin kafe estetik ala industrial dengan lantai kerikil (karena kamu suka), tapi target pasarmu ternyata ibu-ibu muda.

Akibatnya? Mereka nggak nyaman karena stroller susah lewat dan anak-anak rawan jatuh. Akhirnya? Sepi.

Cara Riset Pasar Bisnis Wisata
Close up layar HP menampilkan ulasan wisata

Menghitung Risiko: Lebih Baik Pusing Sekarang

Mungkin kamu mikir, "Ah, ribet banget sih. Kapan mulainya kalau riset melulu? Keburu idenya diambil orang!"

Perasaan takut ketinggalan (FOMO) itu wajar. Tapi dalam bisnis, keputusan emosional adalah musuh nomor satu. Coba bayangkan dua skenario ini:

Skenario A (Tanpa Riset)

Kamu nekat bangun waterpark senilai 5 Miliar. Ternyata setelah jadi, sumber air di daerahmu sulit saat kemarau. Warga sekitar protes karena sumur mereka kering. Izin bermasalah, operasional bengkak beli air tangki.

Hasilnya? Bisnis macet, utang numpuk. Ih, amit-amit.

Skenario B (Dengan Riset)

Kamu survei dulu selama sebulan. Kamu nemu fakta soal air itu. Akhirnya kamu putuskan batal bikin waterpark dan ganti konsep jadi Agrowisata Edukasi yang minim penggunaan air. Modal lebih kecil, risiko lingkungan rendah, warga mendukung. Bisnis jalan lancar.

Pilih mana? Pusing sedikit di awal buat riset, atau pusing tujuh keliling di akhir karena dikejar tagihan? Riset pasar adalah bentuk mitigasi risiko terbaik. Ini adalah asuransi buat modalmu.

 

Menyusun Strategi dari Data

Setelah semua data terkumpul, jangan cuma didiamkan di laptop. Gunakan itu untuk menentukan harga tiket. Jangan asal tembak harga.

Kalau risetmu menunjukkan rata-rata pengeluaran wisatawan di daerahmu cuma 50 ribu rupiah per orang, jangan jual tiket masuk 100 ribu kecuali kamu punya nilai jual yang sangat-sangat premium.

Sesuaikan harga dengan kemampuan pasar (daya beli) yang sudah kamu riset tadi.

Begitu juga dengan promosi. Kalau targetmu anak muda, buang anggaran cetak brosurmu. Pakai uangnya buat undang micro-influencer lokal atau bikin konten TikTok yang relate. Bahasanya, visualnya, semua disesuaikan dengan data riset tadi.


Sevenstar Indonesia

FAQ

1. Apa bedanya riset pasar sama riset pemasaran?
Sering ketukar nih! Gampangnya gini: Riset Pasar itu fokus ke "Siapa konsumennya dan apa maunya" (dilakukan sebelum produk jadi). Sedangkan Riset Pemasaran itu lebih luas, mencakup "Gimana cara jualannya, promosi di mana, dan evaluasi penjualannya" (bisa dilakukan saat bisnis sudah jalan). Tapi dua-duanya wajib dilakukan kok.
2. Saya gaptek, gimana cara riset kompetitor yang paling gampang?
Nggak perlu tools canggih! Cara paling manual dan ampuh: Datang langsung ke tempat kompetitor sebagai pengunjung. Beli tiketnya, cobain makanannya, pakai toiletnya. Amati pengunjung lain, mereka senang di bagian mana dan ngeluh di bagian mana. Catat semua di HP-mu. Itu sudah riset lapangan yang sangat valid.
3. Kapan waktu terbaik melakukan riset pasar?
Idealnya 3-6 bulan sebelum kamu mulai pembangunan fisik atau belanja modal besar. Tapi kalau bisnismu sudah jalan dan lagi sepi, riset pasar juga wajib dilakukan lagi untuk evaluasi (re-riset) supaya tahu letak salahnya di mana dan bisa segera diperbaiki (pivot).

 

Bisnis itu Maraton, Bukan Lari Sprint

Membangun bisnis wisata itu bukan cuma soal grand opening yang meriah. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana membuat bisnis itu tetap hidup setelah euforia pembukaan selesai. Di sinilah riset pasar berperan sebagai napas panjang bisnismu.

Dunia pariwisata akan terus berubah. Mungkin tahun depan trennya ganti lagi. Tapi kalau kamu sudah terbiasa melakukan riset, terbiasa membaca data, dan peka terhadap perubahan perilaku konsumen, kamu akan bisa beradaptasi.

Kamu akan tahu kapan harus renovasi, kapan harus ganti menu, atau kapan harus bikin wahana baru.

Jadi, sebelum kamu tancap gas pol-polan, pastikan kamu sudah pegang petanya. Lakukan Riset Pasar Bisnis Wisata sekarang.

Lebih baik capek riset di awal daripada capek nyesel di akhir. Ingat, uang bisa dicari, tapi waktu yang terbuang karena salah strategi nggak bisa balik lagi.

Selamat meriset, dan semoga impian bisnis wisatamu sukses besar ya!

 


⚠️ Panduan ini disusun berdasarkan gabungan berbagai sumber referensi serta keyakinan dan pemahaman penulis. Oleh karena itu, pembaca disarankan menggunakan panduan ini sebagai referensi umum dan melakukan penyesuaian sesuai kebutuhan masing-masing.
📖 Lihat Sumber Informasi
Referensi Tulisan: 01. Cara Riset Pasar Pariwisata - konsultanpariwisata.com
02. Riset Pemasaran Pariwisata - pemasaranpariwisata.com
03. Tourism Marketing Strategy - researchgate.net
04. Analisis Data Pariwisata - perpustakaan.bsdk.mahkamahagung.go.id
✍️ Ditulis oleh  Sholikhatun Nikmah (snn)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *