Cara Riset Pasar Bisnis Wisata, Panduan Teknis G.Trends dan OTA
- 01. Jangan Cuma Mengandalkan "Feeling"
- 02. Mulai dari Mana? Manfaatkan Jejak Digital!
- 03. Analisis Kompetitor via OTA
- 04. Kenali Siapa yang Bakal Datang
- 05. Menghitung Risiko Bisnis
- Skenario A (Tanpa Riset)
- Skenario B (Dengan Riset)
- 06. Menyusun Strategi dari Data
- 07. FAQ
- 08. Bisnis itu Maraton, Bukan Sprint
Sevenstar Indonesia- Jujur deh, siapa
sih yang nggak tergiur punya bisnis wisata sendiri? Bayangannya pasti indah
banget: punya glamping estetik di pinggir bukit, kafe dengan view
sawah yang hijau, atau wahana bermain yang setiap akhir pekan dipenuhi gelak
tawa pengunjung.
Di kepala kita,
kalkulator keuntungan sudah berjalan otomatis. "Kalau tiketnya 50 ribu,
yang datang 100 orang sehari, wah sebulan sudah bisa balik modal nih!"
Tapi, tunggu
sebentar. Mari kita tarik napas dan bicara realita.
Banyak dari kita
terjebak dalam euforia "memiliki ide", tapi lupa memvalidasi apakah
ide itu "dibutuhkan".
Kamu pasti sudah
tahu kan, banyak wisata yang tutup setelah viral sesaat? Nah, pertanyaannya
sekarang: gimana cara mencegahnya secara teknis? Kita bedah alat-alatnya di
sini.
Panduan ini bukan
mau menakut-nakuti kamu, tapi justru ingin menjagamu. Anggaplah tulisan ini
sebagai obrolan santai antar teman agar kamu nggak masuk ke jurang kerugian
yang sebenernya bisa dihindari. Yuk, kita bedah kenapa riset digital itu
nyawanya bisnis wisatamu.
Jangan Cuma
Mengandalkan "Feeling" Anak Lokal
Seringkali kita
merasa sudah paling tahu daerah kita sendiri. "Ah, aku kan lahir dan besar
di sini. Aku tahu kok orang-orang sukanya apa."
Hati-hati, kalimat
itu jebakan. Merasa tahu dan benar-benar tahu berdasarkan data adalah dua hal
yang berbeda. Perilaku wisatawan itu dinamis banget dan berubah sangat cepat.
Apa yang laku tahun lalu, belum tentu dilirik tahun ini.
Dulu, orang mungkin
suka wisata yang penuh spot foto buatan warna-warni (ingat zaman kampung
warna-warni?). Sekarang? Trennya bergeser ke healing, mencari
ketenangan, alam yang natural, dan pengalaman otentik.
Kalau kamu masih
pakai insting lama dan nekat bikin spot foto norak di tengah hutan pinus
yang asri, bisa jadi kamu malah dihujat netizen karena dianggap merusak alam.
Di sinilah data
masuk sebagai penyelamat. Kita butuh fakta, bukan asumsi. Riset pasar membantu
kita melihat peta persaingan dengan kacamata yang jernih, bukan dengan kacamata
kuda yang hanya fokus pada keinginan kita sendiri.
Mulai dari Mana?
Manfaatkan Jejak Digital!
"Tapi riset pasar kan mahal? Harus sewa konsultan?"
Nggak selalu. Di
era digital ini, kamu bisa jadi detektif untuk bisnismu sendiri. Alat-alatnya
sudah ada di genggamanmu, gratis pula.
Coba deh buka GoogleTrends. Ketik kata kunci yang berhubungan dengan ide bisnismu. Misalnya
kamu mau bikin "Wisata Petik Stroberi". Lihat grafiknya dalam setahun
terakhir.
Apakah trennya
naik, stabil, atau malah terjun bebas? Kalau tren pencariannya turun drastis,
mungkin pasar sudah jenuh. Tapi kalau grafiknya naik, terutama di musim-musim
liburan, itu lampu hijau buatmu.
Selain itu, lakukan
apa yang disebut Social Listening. Ini cara keren buat bilang:
"kepoin omongan orang di medsos". Coba cari destinasi wisata
kompetitor atau yang mirip dengan idemu di TikTok atau Instagram. Jangan cuma
lihat videonya, tapi baca kolom komentarnya.
Di sana ada harta
karun informasi. Kamu bakal nemu keluhan jujur seperti:
- "Tempatnya
bagus, tapi panas banget nggak ada peneduh."
- "Kapok
ke sini, jalannya rusak bikin mobil kandas."
- "Makanannya
mahal, rasanya standar banget."
Nah,
keluhan-keluhan itu adalah peluang emas buat kamu!
Kalau kamu bisa
bikin tempat wisata yang adem, akses jalannya mulus, dan makanannya enak dengan
harga masuk akal, kamu sudah menang satu langkah dari kompetitor bahkan sebelum
kamu buka. Kamu menjawab masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh kompetitor.
Mengintip Tetangga:
Analisis Kompetitor via OTA
Pernah nggak
kepikiran buat ngecek Online Travel Agent (OTA) kayak Traveloka,
Tiket.com, atau TripAdvisor sebelum bikin bisnis plan? Kalau belum, coba
lakukan sekarang.
Cari tempat wisata
di sekitarmu, lalu filter ulasannya. Fokuslah ke ulasan bintang 1 dan 2.
Kenapa? Karena di situlah letak kejujuran yang paling brutal. Brosur dan video
promosi bisa bohong, tapi kekecewaan pelanggan jarang dibuat-buat.
Misalnya, kamu mau
buka vila keluarga. Ternyata di kompetitor sebelah, banyak yang komplain soal
"air panas nggak nyala" atau "banyak nyamuk".
Dari data sederhana
ini, kamu bisa menyusun strategi operasional: pastikan sistem water heater
kamu prima dan siapkan manajemen pengendalian hama yang bagus. Riset pasar itu
sesederhana belajar dari kesalahan orang lain supaya kita nggak perlu
mengalaminya sendiri.
Kenali Siapa yang Bakal
Datang (Jangan Serakah!)
Salah satu penyakit
pebisnis pemula adalah ingin merangkul semua orang. "Target pasarnya
siapa?" dijawab "Semua umur, dari bayi sampai lansia."
Waduh, ini bahaya.
Dalam marketing, kalau kamu mencoba bicara pada semua orang, kamu malah nggak
didengar oleh siapa-siapa. Kamu harus spesifik.
Coba tanya ke
dirimu sendiri: Siapa yang paling mungkin keluar uang buat ide wisataku ini?
Apakah Gen Z yang hobi ngonten? Atau keluarga muda yang bawa balita? Atau
mungkin komunitas pensiunan yang cari ketenangan?
Jawabannya akan
menentukan segalanya.
- Kalau
targetmu Gen Z, kamu butuh WiFi kencang, colokan listrik banyak,
kopi enak, dan sudut-sudut estetik. Musiknya mungkin yang lagi hits di
Spotify Top 40.
- Kalau
targetmu Keluarga, lupakan musik jedag-jedug. Kamu butuh toilet
yang bersih dan luas (bisa buat ganti popok), jalan yang rata buat stroller,
dan menu makanan yang ramah anak (nggak cuma pedas-pedasan).
Tanpa riset, kamu
mungkin bakal bikin kafe estetik ala industrial dengan lantai kerikil (karena
kamu suka), tapi target pasarmu ternyata ibu-ibu muda.
Akibatnya? Mereka nggak nyaman karena stroller susah lewat dan anak-anak rawan jatuh. Akhirnya? Sepi.
![]() |
| Close up layar HP menampilkan ulasan wisata |
Menghitung Risiko:
Lebih Baik Pusing Sekarang
Mungkin kamu mikir,
"Ah, ribet banget sih. Kapan mulainya kalau riset melulu? Keburu idenya
diambil orang!"
Perasaan takut
ketinggalan (FOMO) itu wajar. Tapi dalam bisnis, keputusan emosional
adalah musuh nomor satu. Coba bayangkan dua skenario ini:
Skenario A (Tanpa
Riset)
Kamu nekat bangun waterpark
senilai 5 Miliar. Ternyata setelah jadi, sumber air di daerahmu sulit saat
kemarau. Warga sekitar protes karena sumur mereka kering. Izin bermasalah,
operasional bengkak beli air tangki.
Hasilnya? Bisnis
macet, utang numpuk. Ih, amit-amit.
Skenario B (Dengan
Riset)
Kamu survei dulu
selama sebulan. Kamu nemu fakta soal air itu. Akhirnya kamu putuskan batal
bikin waterpark dan ganti konsep jadi Agrowisata Edukasi yang
minim penggunaan air. Modal lebih kecil, risiko lingkungan rendah, warga
mendukung. Bisnis jalan lancar.
Pilih mana? Pusing
sedikit di awal buat riset, atau pusing tujuh keliling di akhir karena dikejar
tagihan? Riset pasar adalah bentuk mitigasi risiko terbaik. Ini adalah asuransi
buat modalmu.
Menyusun Strategi dari
Data
Setelah semua data
terkumpul, jangan cuma didiamkan di laptop. Gunakan itu untuk menentukan harga
tiket. Jangan asal tembak harga.
Kalau risetmu
menunjukkan rata-rata pengeluaran wisatawan di daerahmu cuma 50 ribu rupiah per
orang, jangan jual tiket masuk 100 ribu kecuali kamu punya nilai jual yang
sangat-sangat premium.
Sesuaikan harga
dengan kemampuan pasar (daya beli) yang sudah kamu riset tadi.
Begitu juga dengan
promosi. Kalau targetmu anak muda, buang anggaran cetak brosurmu. Pakai uangnya
buat undang micro-influencer lokal atau bikin konten TikTok yang relate.
Bahasanya, visualnya, semua disesuaikan dengan data riset tadi.
FAQ
1. Apa bedanya riset pasar sama riset pemasaran?
2. Saya gaptek, gimana cara riset kompetitor yang paling gampang?
3. Kapan waktu terbaik melakukan riset pasar?
Bisnis itu Maraton,
Bukan Lari Sprint
Membangun bisnis
wisata itu bukan cuma soal grand opening yang meriah. Tantangan
sebenarnya adalah bagaimana membuat bisnis itu tetap hidup setelah euforia
pembukaan selesai. Di sinilah riset pasar berperan sebagai napas panjang
bisnismu.
Dunia pariwisata
akan terus berubah. Mungkin tahun depan trennya ganti lagi. Tapi kalau kamu
sudah terbiasa melakukan riset, terbiasa membaca data, dan peka terhadap
perubahan perilaku konsumen, kamu akan bisa beradaptasi.
Kamu akan tahu
kapan harus renovasi, kapan harus ganti menu, atau kapan harus bikin wahana
baru.
Jadi, sebelum kamu
tancap gas pol-polan, pastikan kamu sudah pegang petanya. Lakukan Riset Pasar Bisnis Wisata sekarang.
Lebih baik capek
riset di awal daripada capek nyesel di akhir. Ingat, uang bisa dicari, tapi
waktu yang terbuang karena salah strategi nggak bisa balik lagi.
Selamat meriset,
dan semoga impian bisnis wisatamu sukses besar ya!
📖 Lihat Sumber Informasi
02. Riset Pemasaran Pariwisata - pemasaranpariwisata.com
03. Tourism Marketing Strategy - researchgate.net
04. Analisis Data Pariwisata - perpustakaan.bsdk.mahkamahagung.go.id

.webp)
.webp)

