Pentingnya Riset Pasar dalam Bisnis Pariwisata
![]()
Riset pasar bisnis pariwisata bukan sekadar membaca data, tetapi memahami perubahan perilaku wisatawan. Bisnis yang bertahan adalah yang paling peka membaca manusia di balik kunjungan.
Bisnis pariwisata sering terlihat
menjanjikan di awal, lalu perlahan kehilangan denyut. Bukan karena tempatnya
memburuk, tetapi karena pelakunya gagal membaca perubahan manusia yang datang
ke sana.
Kenapa Banyak
Bisnis Pariwisata Mati Pelan-Pelan
Banyak usaha wisata ramai saat baru
dibuka. Antrean panjang. Foto berseliweran di media sosial. Lalu sepi. Tidak
mendadak. Pelan-pelan.
Kesalahan paling umum adalah mengira
wisata cukup dijual dengan pemandangan. Gunung tetap di situ. Sungai tetap
mengalir. Tapi cara orang berwisata berubah cepat.
Yang berubah bukan alamnya,
melainkan perilaku wisatawan. Cara mereka memilih, menunda, bahkan membatalkan
perjalanan.
Bisnis pariwisata bukan soal lokasi.
Tapi soal membaca manusia yang datang ke lokasi itu.
Riset Pasar dalam
Bisnis Pariwisata Bukan Sekadar Data
Riset pasar bisnis pariwisata sering
dipersempit menjadi angka. Usia. Asal daerah. Penghasilan. Semua penting, tapi
tidak cukup.
Yang lebih menentukan justru alasan
mereka liburan, emosi yang dicari, dan ketakutan sebelum memutuskan booking.
Termasuk alasan kenapa mereka batal datang tanpa pernah mengeluh.
Dalam riset bisnis pariwisata,
wisatawan rafting bukan sekadar penyuka olahraga ekstrem. Banyak dari mereka
mencari pelarian dari tekanan kerja, momen kebersamaan, atau validasi sosial.
Riset pasar bukan sekadar
spreadsheet. Ia adalah usaha memahami psikologi wisatawan.
Jenis Riset Pasar
yang Relevan untuk Bisnis Pariwisata
Riset Sebelum
Membuka atau Mengembangkan Produk
Banyak pelaku usaha mengembangkan
produk tanpa memastikan masalahnya nyata. Pasar bisnis pariwisata sering kali
sudah penuh, tapi belum menjawab kebutuhan spesifik.
Homestay banyak, tapi pengalaman
privat minim. Wisata alam melimpah, tapi rasa aman keluarga kurang
diperhatikan.
Riset Saat Bisnis
Sudah Berjalan
Bisnis bisa terlihat normal, padahal
sinyal bahaya sudah muncul. Wisatawan datang sekali lalu tak kembali.
Perilaku seperti menyimpan konten
promosi tanpa melakukan pemesanan adalah petunjuk penting. Pesannya menarik,
tapi belum cukup relevan.
Riset Saat
Penjualan Menurun
Penurunan omzet jarang murni karena
harga. Lebih sering karena pesan yang disampaikan tidak lagi sejalan dengan
kondisi pasar.
Tren bergeser. Daya beli berubah.
Atau pesaing lebih paham cara membingkai solusi.
| Melihat Ulasan Sambil Menikmati Pemandangan |
Cara Riset Pasar
Murah untuk UMKM Pariwisata
Riset bisnis tidak selalu
membutuhkan survei formal. Banyak insight justru muncul dari pengamatan
sederhana.
Baca ulasan Google dan perhatikan
kalimat negatif atau menggantung. Cermati pertanyaan yang berulang di DM media
sosial. Amati konten kompetitor yang paling sering disimpan.
Di lapangan, perhatikan jam
kedatangan wisatawan, siapa yang mereka ajak, dan spot mana yang paling sering
difoto.
Riset terbaik sering dilakukan
dengan mata dan telinga pemilik usaha.
Mengubah Hasil
Riset Menjadi Keputusan Bisnis
Banyak riset berhenti di catatan.
Tidak sampai ke keputusan. Padahal nilai riset ada pada perubahan.
Hasil riset harus memengaruhi
produk, harga, narasi promosi, dan alur pelayanan. Bukan sekadar laporan
internal.
Jika wisatawan takut kelelahan,
jangan menjual tantangan. Jual rasa aman dan terkontrol. Itu strategi
mengembangkan usaha pariwisata yang masuk akal.
Kita ambil contoh, usaha rafting
yang mengalami sepi pengunjung di hari kerja. Sungai tetap sama. Peralatannya
layak.
Riset kecil menunjukkan perusahaan
membutuhkan aktivitas team bonding. Solusinya bukan diskon acak, melainkan
paket korporat dengan pendekatan pengembangan tim.
Paket weekday dan framing sebagai
solusi SDM mengubah masalah menjadi peluang usaha pariwisata.
| Tim Rafting Bersama di Sungai Tropis |
Kesalahan Umum
dalam Riset Bisnis Pariwisata
Banyak pelaku usaha merasa
sudah memahami pasar karena lingkungan sekitar bilang bagus. Insting dijadikan
pegangan tanpa validasi.
Kesalahan lain adalah mengikuti tren
tanpa tahu siapa pembelinya. Semua wisatawan dianggap sama, padahal
kebutuhannya berbeda.
Masalahnya bukan kekurangan data,
tetapi salah membaca makna.
FAQ Seputar Riset
Pasar dalam Pariwisata
2.Pengumpulan data (survei, wawancara, observasi)
3.Analisis data dan temuan
4.Penarikan kesimpulan dan rekomendasi strategi
Alam bisa tetap indah
bertahun-tahun. Selera wisatawan berubah tiap musim.
Di industri pariwisata Indonesia,
yang bertahan bukan yang paling bagus lokasinya, tetapi yang paling peka
membaca manusia. Dan riset pasar adalah alat kepekaan itu.
02. Riset Pasar: Pengertian, Tujuan, Jenis, dan Caranya - Populix
Referensi Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan teknologi AI.


