Strategi Bisnis Pariwisata yang Efektif dan Berkelanjutan
![]() |
Strategi bisnis pariwisata tidak lagi soal promosi dan diskon, melainkan tentang adaptasi, efisiensi, dan keberlanjutan agar usaha tetap hidup sekaligus tumbuh di tengah perubahan perilaku wisatawan.
“Hari ini nol booking.”
“Nol?”
“Iya.”
“Terus kamu masih buka?”
Pariwisata sedang tidak
baik-baik saja. Bagi banyak pelaku usaha, sepi bukan lagi fase musiman, melainkan
kondisi yang memaksa mereka meninjau ulang strategi bisnis pariwisata agar
tetap bertahan dan berkembang.
Pandemi meninggalkan
pelajaran mahal. Permintaan bisa runtuh dalam waktu singkat, sementara biaya
tetap terus berjalan. Pada saat yang sama, wisatawan kini lebih sadar
kesehatan, keamanan, dan fleksibilitas.
Bagi pelaku usaha, ini bukan
fase sementara.
Ini cara baru berbisnis pariwisata.
Dasar Strategi
Bisnis Pariwisata
Apa itu strategi bisnis
pariwisata? Strategi
bisnis pariwisata adalah arah jangka panjang untuk menjaga usaha tetap
relevan dan menguntungkan. Ia berbeda dari taktik harian seperti promo atau
diskon musiman.
Strategi menjawab satu
pertanyaan kunci:
usaha ini ingin bertahan di kondisi apa, dan tumbuh ke mana.
Kerangka strategi yang perlu
dimiliki pelaku usaha.
Setiap pengembangan bisnis
pariwisata perlu berangkat dari pemetaan.
Analisis SWOT membantu membaca kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman secara
jujur.
Sementara Business Model
Canvas membantu melihat apakah model usaha masih layak, adaptif, dan
berkelanjutan.
Tanpa kerangka ini, keputusan bisnis sering reaktif dan tidak konsisten.
![]() |
| Kehidupan Desa Wisata yang Harmonis |
Strategi Bisnis
Pariwisata untuk Bertahan
Efisiensi
Operasional
Strategi bertahan bertujuan
satu hal, agar usaha tetap hidup saat tekanan datang. Oleh karena itu, efisiensi
operasional menjadi fondasinya
Efisiensi bukan berarti
memangkas kualitas. Maksudnya soal mengatur ulang prioritas biaya agar
pengalaman wisata tetap terjaga.
Seperti nelayan menghadapi
cuaca buruk. Ia tidak memaksakan melaut saat ombak tinggi. Jaring diperbaiki,
perahu dirawat, biaya dijaga. Tujuannya bukan berhenti mencari ikan, melainkan
pulang hidup dan siap berlayar ketika cuaca membaik.
Penyesuaian jam operasional,
skema kerja fleksibel, hingga renegosiasi biaya tetap menjadi langkah rasional,
bukan tanda kalah.
Manajemen Risiko
Bisnis pariwisata tergolong
rentan karena sangat bergantung pada faktor eksternal seperti saat sedang ada hari
haya ataupun meyambut tahun baru.
Karena itu, identifikasi risiko harus menjadi kebiasaan, bukan wacana, bukan
hanya pikiran di kepala, tapi harus ada action nyata dalam mencari
penyelesaiannya.
Pelaku usaha bisnis pariwisata harus bisa melihat risiko apa saja yang berkemungkinan muncul dan
menyiapkan senjata pamungkas untuk mengatasi risiko tersebut. Tetapi, masih
menjadi kebiasaan banyak orang untuk menyusun rencana, secara tidak realistis.
Mereka berandai-andai, menganggap
mereka mampu mengatasi semua risiko di masa kedepan, hingga membuat keputusan yang berakhir kegagalan.
Rencana kontinjensi membuat
pelaku usaha tidak panik saat kondisi berubah. Selalu siapkan rencana kedua,
bahkan ketiga.
Kesehatan dan
Keamanan Sebagai Nilai Jual
Standar CHSE
bukan sekadar urusan checklist atau sertifikat di dinding. Karena itu, standar CHSE
membangun kepercayaan wisatawan sejak awal proses pengambilan keputusan.
Wisatawan
hari ini tidak lagi bertanya, “Tempatnya bagus atau tidak?”
Pertanyaan mereka bergeser. “Aman atau tidak?”
Ketika rasa
aman terbentuk sejak awal, dari cara admin membalas chat, dari foto-foto yang
jujur, dari penjelasan yang konkret, keputusan berwisata datang lebih cepat.
Tanpa banyak tawar-menawar.
Masalahnya,
banyak pelaku usaha masih menjual keamanan dengan klaim besar.
Padahal yang dibutuhkan justru hanya penjelasan sederhana asal konsisten dan
bisa diverifikasi. Pelanggan itu pintar, kini hampir semua orang tahu mana klaim
yang berlebihan dan bisa dipercaya.
Tetap Aktif di Pasar dengan Menjalin Relasi
Pasar yang
sepi bukan alasan untuk menghilang tapi jadi waktu yang tepat untuk berpikir,
meninjau ulang, mencari pembeda yang bisa mendorong konsumen datang hingga
terjadi transaksi.
Pelaku usaha
yang benar-benar bertahan bukan yang paling sering diskon, tetapi yang tetap
menjaga komunikasi. Mereka tidak hanya menawarkan harga, tetapi alasan untuk
tetap percaya.
Banyak usaha
pariwisata terlalu sibuk mencari customer baru, sementara hubungan dengan
customer lama perlahan terputus.
Padahal, customer lama adalah satu-satunya pihak yang sudah merasakan langsung
kualitas layanan.
Customer
baru datang karena penasaran. Customer lama bertahan karena pengalaman.
Terlihat bukan perbedaannya?
Yang jadi
inti permasalahan, setelah transaksi selesai, interaksi sering ikut selesai.
Tidak ada kabar lanjutan, tidak ada tindak lanjut, dan tidak ada upaya menjaga
hubungan.
Customer
baru perlu diyakinkan. Karena itu, komunikasi awal harus jelas, informatif, dan
menenangkan.
Sebaliknya,
customer lama perlu dihargai. Mereka tidak lagi mencari penjelasan panjang,
tetapi perhatian dan konsistensi.
Kalau ingin
meningkatkan level pelayanan, sebaiknya ingat hal tersebut. Customer lama sudah
melewati fase ragu. Mereka juga lebih mungkin merekomendasikan usaha ke teman,
keluarga, atau rekan kerja. Sering kali tanpa kita sadari.
Rekomendasi
semacam ini bekerja lebih kuat daripada iklan karena datang dari pengalaman
nyata, bukan janji promosi. Namun, rekomendasi jarang muncul jika hubungan
dibiarkan dingin.
Follow-up
bukan sekadar basa-basi setelah transaksi. Banyak pelaku usaha merasa sungkan
atau takut terlihat mengganggu. Padahal, selama dilakukan dengan konteks yang
tepat, follow-up justru dianggap perhatian.
Contohnya,
pesan singkat yang menanyakan kesan kunjungan dan mengucapkan terima kasih
tanpa menyelipkan promosi.
Follow-up berikutnya bisa
dilakukan beberapa minggu kemudian, terutama menjelang musim liburan
atau momen tertentu. Bukan untuk menawarkan diskon besar, tetapi memberi
informasi awal atau prioritas.
Ketika hubungan terjaga,
customer lama bukan hanya kembali.
Mereka sering membawa orang lain.
![]() |
| Turis Jelajahi Desa di Pagi Hari |
Strategi Mengembangkan Usaha Pariwisata
Bertahan
saja tidak cukup. Bisnis pariwisata yang hanya fokus bertahan akan kelelahan
sebelum sempat tumbuh.
Keberlanjutan
ditentukan oleh kemampuan membaca perubahan, lalu meresponsnya lebih cepat dari
kompetitor. Selalu seperti itu.
Inovasi Produk dan Diversifikasi Layanan
Bisnis
pariwisata yang stagnan jarang tumbang karena satu krisis besar. Ia mati
pelan-pelan karena tidak relevan.
Pengalaman
baru tidak selalu berarti investasi mahal. Tema lokal, cerita setempat, dan
aktivitas berbasis keseharian warga sering justru lebih dicari karena terasa
autentik.
Diversifikasi seperti kuliner, wisata edukasi, atau tur berbasis komunitas membuka pintu ke segmen yang sebelumnya tidak tersentuh. Produk tidak harus mewah. Yang penting, punya makna dan konteks.
Digitalisasi
sebagai Tulang Punggung Bisnis
Digitalisasi
bukan soal terlihat modern di mata pesaing. Ia soal memperpendek jarak antara
niat dan transaksi.
Banyak usaha
pariwisata gagal bukan karena produknya buruk, tetapi karena prosesnya
menyulitkan. Informasi tidak jelas, pemesanan rumit, respons lambat.
Website
profesional, sistem pemesanan daring, dan media sosial yang dikelola konsisten
membuat calon wisatawan tidak ragu melangkah ke tahap berikutnya, membayar.
Bayangkan
seseorang sedang scroll media sosial. Aktivitas yang nyaris dilakukan hari ini.
Lalu muncul konten tentang paket tur Gunung Bromo. Visualnya kuat, ceritanya
menggoda. Rasa penasaran muncul.
Ia membuka
website untuk mencari detail. Harga, jadwal, fasilitas. Setelah itu, ia
bertanya lewat WhatsApp, DM, atau langsung memesan. Di titik ini, kepercayaan
dibangun. Dan satu booking pun terjadi.
Inilah alur
pelanggan di era digital. Pelaku usaha perlu memikirkan bagaimana orang
melihat, menyadari, lalu mengambil keputusan. Jika satu tahap saja tersendat,
alurnya mulai goyah.
Penguatan Brand dan Loyalitas Pelanggan
Dalam
industri pariwisata, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya naik-turun.
Sekali rusak, mahal untuk dipulihkan.
Ulasan
positif bekerja lebih lama daripada iklan berbayar.
Pengalaman yang konsisten membangun reputasi tanpa perlu teriak-teriak.
Program
loyalitas tidak harus kompleks. Diskon kecil, prioritas booking, atau perhatian
personal sering lebih efektif daripada kampanye besar yang cepat dilupakan.
![]() |
| Diskusi Pagi di Teras Tradisional |
Kemitraan Strategis Berbasis Lokal
Tidak semua
peluang harus dikerjakan sendiri. Dan tidak semua kolaborasi harus berbentuk
formal.
Kemitraan
dengan UMKM lokal, komunitas wisata, atau platform digital memperluas jangkauan
pasar tanpa menambah beban operasional besar. Di saat yang sama, pengalaman
wisata menjadi lebih kaya dan berlapis. Ini salah satu model bisnis yang cukup
populer di Indonesia.
Namun,
sadari kolaborasi yang baik bukan hanya soal berbagi untung, tetapi berbagi
peran.
SDM dan Kepemimpinan Adaptif
Pelayanan berkualitas tidak
lahir dari slogan, melainkan dari empati yang terasa di setiap interaksi.
Manusia senang dipedulikan.
Karena itu,
pelatihan layanan, literasi digital, dan kesadaran keamanan seharusnya dibaca
sebagai investasi jangka panjang, bukan biaya tambahan. Tanpa fondasi ini,
strategi sering berhenti di kertas.
Kepemimpinan
yang adaptif membuat tim tidak sekadar menjalankan instruksi.
Mereka belajar membaca situasi, mencari solusi, dan bertumbuh bersama usaha.
Strategi Pemasaran Bisnis Pariwisata yang Efektif
Segmentasi dan Targeting yang Jelas
Tidak semua
wisatawan cocok untuk semua produk.
Kesalahan paling mahal adalah mencoba menyenangkan semua orang.
Menentukan
segmen sejak awal membuat pesan lebih tajam dan biaya lebih efisien. Wisatawan
domestik, keluarga, dan generasi muda punya kebutuhan yang berbeda dan harus
diperlakukan berbeda.
Digital Marketing Berbasis Cerita
Konten yang
baik tidak menjual fasilitas. Ia menjual pengalaman sebelum pengalaman itu
terjadi.
Cerita
perjalanan, testimoni jujur, dan visual autentik membangun kedekatan emosional.
Optimasi mesin pencari kemudian bekerja sebagai pintu masuk, bukan panggung
utama.
Experience Marketing sebagai Pembeda
Pengalaman
yang berkesan tidak selalu viral. Tapi hampir selalu diingat.
Wisatawan
yang pulang dengan cerita akan membawa pemasaran paling efektif, rekomendasi
tanpa diminta.
Rencana Aksi Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dalam jangka
pendek, fokus pada efisiensi, keamanan, dan promosi terukur menjaga arus kas
tetap bernapas. Dalam jangka panjang, inovasi produk, digitalisasi, dan
kemitraan menentukan arah pertumbuhan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar Pemasaran Pariwisata
Strategi
bisnis pariwisata perlu diuji dalam kondisi nyata, lalu diperbaiki saat tidak
lagi relevan. Dalam industri yang penuh ketidakpastian, yang bertahan bukan
selalu pelaku usaha terbesar.
Mereka yang
cepat belajar, mau menyesuaikan diri, dan berani mengubah cara kerja justru
lebih siap menghadapi perubahan. Pertanyaannya
bukan lagi apakah bisnis ini akan bertahan, melainkan sejauh apa ia mau
berubah.
Bagi pelaku
usaha, sekarang adalah waktu yang tepat untuk meninjau ulang strategi.
Bukan untuk
menakut-nakuti diri sendiri. Strategi
yang dieksekusi hari ini menentukan apakah bisnis pariwisata masih relevan esok
hari.
02. Cara Memulai Bisnis Wisata untuk Pemula, Anti Gagal! - Koin Works
Referensi Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan teknologi AI.






