Strategi Bisnis Pariwisata yang Efektif dan Berkelanjutan

Strategi Bisnis Pariwisata yang Efektif dan Berkelanjutan
💡 Ringkasan Artikel

Strategi bisnis pariwisata tidak lagi soal promosi dan diskon, melainkan tentang adaptasi, efisiensi, dan keberlanjutan agar usaha tetap hidup sekaligus tumbuh di tengah perubahan perilaku wisatawan.

 

“Hari ini nol booking.”
“Nol?”
“Iya.”
“Terus kamu masih buka?”

Pariwisata sedang tidak baik-baik saja. Bagi banyak pelaku usaha, sepi bukan lagi fase musiman, melainkan kondisi yang memaksa mereka meninjau ulang strategi bisnis pariwisata agar tetap bertahan dan berkembang.

Pandemi meninggalkan pelajaran mahal. Permintaan bisa runtuh dalam waktu singkat, sementara biaya tetap terus berjalan. Pada saat yang sama, wisatawan kini lebih sadar kesehatan, keamanan, dan fleksibilitas.

Bagi pelaku usaha, ini bukan fase sementara.
Ini cara baru berbisnis pariwisata.

 


Dasar Strategi Bisnis Pariwisata

Apa itu strategi bisnis pariwisata? Strategi bisnis pariwisata adalah arah jangka panjang untuk menjaga usaha tetap relevan dan menguntungkan. Ia berbeda dari taktik harian seperti promo atau diskon musiman.

Strategi menjawab satu pertanyaan kunci:
usaha ini ingin bertahan di kondisi apa, dan tumbuh ke mana.

Kerangka strategi yang perlu dimiliki pelaku usaha.

Setiap pengembangan bisnis pariwisata perlu berangkat dari pemetaan.
Analisis SWOT membantu membaca kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman secara jujur.

Sementara Business Model Canvas membantu melihat apakah model usaha masih layak, adaptif, dan berkelanjutan.
Tanpa kerangka ini, keputusan bisnis sering reaktif dan tidak konsisten.

 

Kehidupan Desa Wisata yang Harmonis
Kehidupan Desa Wisata yang Harmonis

Strategi Bisnis Pariwisata untuk Bertahan

Efisiensi Operasional

Strategi bertahan bertujuan satu hal, agar usaha tetap hidup saat tekanan datang. Oleh karena itu, efisiensi operasional menjadi fondasinya

Efisiensi bukan berarti memangkas kualitas. Maksudnya soal mengatur ulang prioritas biaya agar pengalaman wisata tetap terjaga.

Seperti nelayan menghadapi cuaca buruk. Ia tidak memaksakan melaut saat ombak tinggi. Jaring diperbaiki, perahu dirawat, biaya dijaga. Tujuannya bukan berhenti mencari ikan, melainkan pulang hidup dan siap berlayar ketika cuaca membaik.

Penyesuaian jam operasional, skema kerja fleksibel, hingga renegosiasi biaya tetap menjadi langkah rasional, bukan tanda kalah.

 

Manajemen Risiko

Bisnis pariwisata tergolong rentan karena sangat bergantung pada faktor eksternal seperti saat sedang ada hari haya ataupun meyambut tahun baru.
Karena itu, identifikasi risiko harus menjadi kebiasaan, bukan wacana, bukan hanya pikiran di kepala, tapi harus ada action nyata dalam mencari penyelesaiannya.

Pelaku usaha bisnis pariwisata harus bisa melihat risiko apa saja yang berkemungkinan muncul dan menyiapkan senjata pamungkas untuk mengatasi risiko tersebut. Tetapi, masih menjadi kebiasaan banyak orang untuk menyusun rencana, secara tidak realistis.

Mereka berandai-andai, menganggap mereka mampu mengatasi semua risiko di masa kedepan,  hingga membuat keputusan yang berakhir kegagalan.

Rencana kontinjensi membuat pelaku usaha tidak panik saat kondisi berubah. Selalu siapkan rencana kedua, bahkan ketiga.

 

Kesehatan dan Keamanan Sebagai Nilai Jual

Standar CHSE bukan sekadar urusan checklist atau sertifikat di dinding. Karena itu, standar CHSE membangun kepercayaan wisatawan sejak awal proses pengambilan keputusan.

Wisatawan hari ini tidak lagi bertanya, “Tempatnya bagus atau tidak?”
Pertanyaan mereka bergeser. “Aman atau tidak?”

Ketika rasa aman terbentuk sejak awal, dari cara admin membalas chat, dari foto-foto yang jujur, dari penjelasan yang konkret, keputusan berwisata datang lebih cepat. Tanpa banyak tawar-menawar.

Masalahnya, banyak pelaku usaha masih menjual keamanan dengan klaim besar.
Padahal yang dibutuhkan justru hanya penjelasan sederhana asal konsisten dan bisa diverifikasi. Pelanggan itu pintar, kini hampir semua orang tahu mana klaim yang berlebihan dan bisa dipercaya.

 

Tetap Aktif di Pasar dengan Menjalin Relasi

Pasar yang sepi bukan alasan untuk menghilang tapi jadi waktu yang tepat untuk berpikir, meninjau ulang, mencari pembeda yang bisa mendorong konsumen datang hingga terjadi transaksi.

Pelaku usaha yang benar-benar bertahan bukan yang paling sering diskon, tetapi yang tetap menjaga komunikasi. Mereka tidak hanya menawarkan harga, tetapi alasan untuk tetap percaya.

Banyak usaha pariwisata terlalu sibuk mencari customer baru, sementara hubungan dengan customer lama perlahan terputus.
Padahal, customer lama adalah satu-satunya pihak yang sudah merasakan langsung kualitas layanan.

Customer baru datang karena penasaran. Customer lama bertahan karena pengalaman. Terlihat bukan perbedaannya?

Yang jadi inti permasalahan, setelah transaksi selesai, interaksi sering ikut selesai. Tidak ada kabar lanjutan, tidak ada tindak lanjut, dan tidak ada upaya menjaga hubungan.

Customer baru perlu diyakinkan. Karena itu, komunikasi awal harus jelas, informatif, dan menenangkan.

Sebaliknya, customer lama perlu dihargai. Mereka tidak lagi mencari penjelasan panjang, tetapi perhatian dan konsistensi.

Kalau ingin meningkatkan level pelayanan, sebaiknya ingat hal tersebut. Customer lama sudah melewati fase ragu. Mereka juga lebih mungkin merekomendasikan usaha ke teman, keluarga, atau rekan kerja. Sering kali tanpa kita sadari.

Rekomendasi semacam ini bekerja lebih kuat daripada iklan karena datang dari pengalaman nyata, bukan janji promosi. Namun, rekomendasi jarang muncul jika hubungan dibiarkan dingin.

Follow-up bukan sekadar basa-basi setelah transaksi. Banyak pelaku usaha merasa sungkan atau takut terlihat mengganggu. Padahal, selama dilakukan dengan konteks yang tepat, follow-up justru dianggap perhatian.

Contohnya, pesan singkat yang menanyakan kesan kunjungan dan mengucapkan terima kasih tanpa menyelipkan promosi.

Follow-up berikutnya bisa dilakukan beberapa minggu kemudian, terutama menjelang musim liburan atau momen tertentu. Bukan untuk menawarkan diskon besar, tetapi memberi informasi awal atau prioritas.

Ketika hubungan terjaga, customer lama bukan hanya kembali.
Mereka sering membawa orang lain.

 

Turis Jelajahi Desa di Pagi Hari
Turis Jelajahi Desa di Pagi Hari

Strategi Mengembangkan Usaha Pariwisata

Bertahan saja tidak cukup. Bisnis pariwisata yang hanya fokus bertahan akan kelelahan sebelum sempat tumbuh.

Keberlanjutan ditentukan oleh kemampuan membaca perubahan, lalu meresponsnya lebih cepat dari kompetitor. Selalu seperti itu.

Inovasi Produk dan Diversifikasi Layanan

Bisnis pariwisata yang stagnan jarang tumbang karena satu krisis besar. Ia mati pelan-pelan karena tidak relevan.

Pengalaman baru tidak selalu berarti investasi mahal. Tema lokal, cerita setempat, dan aktivitas berbasis keseharian warga sering justru lebih dicari karena terasa autentik.

Diversifikasi seperti kuliner, wisata edukasi, atau tur berbasis komunitas membuka pintu ke segmen yang sebelumnya tidak tersentuh. Produk tidak harus mewah. Yang penting, punya makna dan konteks.


Digitalisasi sebagai Tulang Punggung Bisnis

Digitalisasi bukan soal terlihat modern di mata pesaing. Ia soal memperpendek jarak antara niat dan transaksi.

Banyak usaha pariwisata gagal bukan karena produknya buruk, tetapi karena prosesnya menyulitkan. Informasi tidak jelas, pemesanan rumit, respons lambat.

Website profesional, sistem pemesanan daring, dan media sosial yang dikelola konsisten membuat calon wisatawan tidak ragu melangkah ke tahap berikutnya, membayar.

Bayangkan seseorang sedang scroll media sosial. Aktivitas yang nyaris dilakukan hari ini. Lalu muncul konten tentang paket tur Gunung Bromo. Visualnya kuat, ceritanya menggoda. Rasa penasaran muncul.

Ia membuka website untuk mencari detail. Harga, jadwal, fasilitas. Setelah itu, ia bertanya lewat WhatsApp, DM, atau langsung memesan. Di titik ini, kepercayaan dibangun. Dan satu booking pun terjadi.

Inilah alur pelanggan di era digital. Pelaku usaha perlu memikirkan bagaimana orang melihat, menyadari, lalu mengambil keputusan. Jika satu tahap saja tersendat, alurnya mulai goyah.

 

Penguatan Brand dan Loyalitas Pelanggan

Dalam industri pariwisata, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya naik-turun.
Sekali rusak, mahal untuk dipulihkan.

Ulasan positif bekerja lebih lama daripada iklan berbayar.
Pengalaman yang konsisten membangun reputasi tanpa perlu teriak-teriak.

Program loyalitas tidak harus kompleks. Diskon kecil, prioritas booking, atau perhatian personal sering lebih efektif daripada kampanye besar yang cepat dilupakan.

 
Diskusi Pagi di Teras Tradisional
Diskusi Pagi di Teras Tradisional

Kemitraan Strategis Berbasis Lokal

Tidak semua peluang harus dikerjakan sendiri. Dan tidak semua kolaborasi harus berbentuk formal.

Kemitraan dengan UMKM lokal, komunitas wisata, atau platform digital memperluas jangkauan pasar tanpa menambah beban operasional besar. Di saat yang sama, pengalaman wisata menjadi lebih kaya dan berlapis. Ini salah satu model bisnis yang cukup populer di Indonesia.

Namun, sadari kolaborasi yang baik bukan hanya soal berbagi untung, tetapi berbagi peran.

 

SDM dan Kepemimpinan Adaptif

Pelayanan berkualitas tidak lahir dari slogan, melainkan dari empati yang terasa di setiap interaksi. Manusia senang dipedulikan.

Karena itu, pelatihan layanan, literasi digital, dan kesadaran keamanan seharusnya dibaca sebagai investasi jangka panjang, bukan biaya tambahan. Tanpa fondasi ini, strategi sering berhenti di kertas.

Kepemimpinan yang adaptif membuat tim tidak sekadar menjalankan instruksi.
Mereka belajar membaca situasi, mencari solusi, dan bertumbuh bersama usaha.

 


Strategi Pemasaran Bisnis Pariwisata yang Efektif

Segmentasi dan Targeting yang Jelas

Tidak semua wisatawan cocok untuk semua produk.
Kesalahan paling mahal adalah mencoba menyenangkan semua orang.

Menentukan segmen sejak awal membuat pesan lebih tajam dan biaya lebih efisien. Wisatawan domestik, keluarga, dan generasi muda punya kebutuhan yang berbeda dan harus diperlakukan berbeda.

 

Digital Marketing Berbasis Cerita

Konten yang baik tidak menjual fasilitas. Ia menjual pengalaman sebelum pengalaman itu terjadi.

Cerita perjalanan, testimoni jujur, dan visual autentik membangun kedekatan emosional. Optimasi mesin pencari kemudian bekerja sebagai pintu masuk, bukan panggung utama.

 

”Sevenstar

Experience Marketing sebagai Pembeda

Pengalaman yang berkesan tidak selalu viral. Tapi hampir selalu diingat.

Wisatawan yang pulang dengan cerita akan membawa pemasaran paling efektif, rekomendasi tanpa diminta.

 

Rencana Aksi Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Dalam jangka pendek, fokus pada efisiensi, keamanan, dan promosi terukur menjaga arus kas tetap bernapas. Dalam jangka panjang, inovasi produk, digitalisasi, dan kemitraan menentukan arah pertumbuhan.

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar Pemasaran Pariwisata

Strategi pemasaran pariwisata mencakup segmentasi pasar yang tepat, pemanfaatan digital marketing, storytelling pengalaman, kolaborasi dengan mitra lokal, serta pengelolaan hubungan pelanggan agar wisatawan datang kembali.
Lima komponen utama pariwisata adalah atraksi, aksesibilitas, amenitas, aktivitas, dan pelayanan pendukung, yang saling menentukan kualitas pengalaman wisata.
Lima strategi pemasaran yang umum digunakan meliputi penentuan target pasar, penyesuaian produk dengan kebutuhan konsumen, penetapan harga yang kompetitif, promosi yang relevan, dan distribusi yang memudahkan transaksi.
Tujuh unsur pemasaran pariwisata meliputi product, price, place, promotion, people, process, dan physical evidence, yang bersama-sama membentuk persepsi dan kepuasan wisatawan.

 

Strategi bisnis pariwisata perlu diuji dalam kondisi nyata, lalu diperbaiki saat tidak lagi relevan. Dalam industri yang penuh ketidakpastian, yang bertahan bukan selalu pelaku usaha terbesar.

Mereka yang cepat belajar, mau menyesuaikan diri, dan berani mengubah cara kerja justru lebih siap menghadapi perubahan. Pertanyaannya bukan lagi apakah bisnis ini akan bertahan, melainkan sejauh apa ia mau berubah.

Bagi pelaku usaha, sekarang adalah waktu yang tepat untuk meninjau ulang strategi.

Bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri. Strategi yang dieksekusi hari ini menentukan apakah bisnis pariwisata masih relevan esok hari.

Referensi Tulisan: 01. Strategi Sukses Memulai Usaha Perjalanan Wisata - Doku
02. Cara Memulai Bisnis Wisata untuk Pemula, Anti Gagal! - Koin Works
Referensi Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan teknologi AI.
✍️ Ditulis oleh Asher Angelica (ica)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *