Model Bisnis Pariwisata yang Paling Banyak Dipakai di Indonesia

Seven Star Indonesia - Bisnis pariwisata hampir
selalu dimulai dari keyakinan sederhana bahwa ketika orang datang, uang akan
ikut mengalir.
Keyakinan ini terdengar
masuk akal, sampai pelaku usaha mulai berhadapan dengan musim sepi, biaya yang
terus berjalan, dan kenyataan bahwa keramaian tidak selalu sejalan dengan
keuntungan. Di titik inilah model bisnis yang tepat dibutuhkan.
Model
Bisnis Berbasis Penjualan Layanan Utama
Model ini terlihat paling
“pariwisata”, tetapi justru paling rawan salah hitung. Yang dimaksud layanan
utama adalah penginapan, paket wisata, dan tiket masuk destinasi.
Ini wajah paling umum dari
model bisnis pariwisata, sekaligus yang paling mudah dipahami orang awam.
Wisatawan datang, membeli, lalu pulang.
Masalahnya, pendapatan
besar sering disertai biaya besar. Penginapan butuh perawatan rutin, SDM
tetap, dan promosi berkelanjutan. Paket wisata bergantung pada musim dan harga
bahan bakar. Tiket destinasi sensitif terhadap cuaca dan tren liburan.
Di banyak daerah, bisnis ini
tampak ramai dari luar, tetapi margin tipis dari dalam. Tidak sedikit
pelaku yang baru sadar setelah berjalan, bahwa ramai tidak selalu untung.
![]() |
| Pasar Tradisional di Desa Wisata |
Model
Bisnis Berbasis Layanan Pendukung
Bisnis ini jarang disorot,
tetapi justru sering menjadi sumber uang paling konsisten.
Kuliner lokal, transportasi
setempat, jasa antar-jemput, hingga penjualan oleh-oleh masuk dalam kategori
ini. Dalam sistem bisnis pariwisata, layanan pendukung hidup dari arus wisata,
tetapi tidak menanggung beban operasional sebesar layanan utama.
Restoran kecil di dekat
destinasi bisa tetap bertahan meski kunjungan menurun, selama ada perputaran
lokal. Sopir lokal mendapat pemasukan tanpa harus memikirkan okupansi kamar.
Banyak pelaku baru sadar
setelah bertahun-tahun. Uang pariwisata sering datang dari yang awalnya
dianggap tambahan.
Model
Bisnis Berbasis Pengalaman Wisata
Model ini tumbuh karena
wisatawan modern tidak lagi puas hanya melihat dan memotret.
Aktivitas lokal, tur
tematik, workshop budaya, hingga pengalaman tinggal bersama warga menjadi inti
model ini. Bukan fasilitas yang dijual, tetapi keterlibatan.
Dalam konsep bisnis
pariwisata ini, skala memang kecil. Namun nilai per wisatawan biasanya lebih
tinggi karena pengalaman bersifat personal dan sulit ditiru. Model ini sangat
cocok untuk UMKM, desa wisata, dan pariwisata berbasis budaya.
Di sini, wisatawan membayar rasa ikut terlibat, bukan kemewahan.
![]() |
| Festival Budaya Bali yang Meriah |
Model
Bisnis Musiman Berisiko Rendah
Model ini seringkali dipilih
karena relatif aman. Sewa alat wisata, jasa foto, parkir, atau pemandu lepas
hanya aktif di musim tertentu.
Biaya tetap rendah, karena
bisnis bisa berhenti tanpa meninggalkan beban berat.
Dalam strategi bisnis pariwisata, model ini sering menjadi pintu masuk pelaku kecil. Tidak semua orang harus membuka usaha sepanjang tahun. Ada yang justru sehat karena tahu kapan harus berhenti. Tidak semua bisnis harus berjalan dua belas bulan.
Model
Bisnis Berbasis Event dan Momentum
Event bisa mengangkat nama
destinasi, tetapi jarang menjadi tulang punggung usaha.
Festival budaya, agenda
tahunan daerah, dan event tematik mampu menarik lonjakan pengunjung. Dampaknya
terasa cepat, tetapi juga cepat mereda.
Model bisnis ini membutuhkan
perencanaan matang karena biaya persiapan tinggi dan hasilnya tidak selalu
sebanding. Banyak daerah sukses mengangkat citra lewat event, tetapi gagal
menjaga keberlanjutan ekonomi setelahnya.
Event penting, namun lebih
tepat sebagai pemantik, bukan sandaran.
Model
Bisnis Platform dan Perantara
Model ini tidak memiliki
aset wisata, tetapi mengendalikan arus transaksi. Travel agent, OTA, dan
marketplace wisata bekerja dengan komisi. Mereka tidak membangun destinasi,
tetapi menghubungkan penawaran dan permintaan.
Dalam model bisnis
pariwisata digital, kekuatan ada pada jaringan, data, dan kepercayaan. Risiko
fisik kecil, tetapi ketergantungan pada volume sangat tinggi.
Ketika arus melambat,
pendapatan ikut tersendat. Bisa dilihat, di sini berlaku hukum tak tertulis “siapa
menguasai arus, ia memegang kendali”.
Model
Bisnis Kolaboratif Lokal
Model ini kuat secara
sosial, tetapi sering rapuh secara manajemen. Desa wisata, koperasi, dan
komunitas pariwisata mengandalkan kerja bersama dan sistem bagi hasil. Nilai
utamanya ada pada partisipasi warga dan keberlanjutan.
Namun dalam pengembangan
model bisnis pariwisata berbasis komunitas, tantangan muncul di koordinasi,
pembagian peran, dan konsistensi kualitas layanan.
Model ini kuat di akar,
lemah di pengelolaan, jika tidak didampingi dengan baik.
![]() |
| Desa Wisata Ramai dengan Wisatawan |
Model
Bisnis Hybrid Paling Umum Dipakai
Di lapangan, hampir tidak
ada bisnis pariwisata yang murni satu model.
Penginapan yang menjual
pengalaman, desa wisata yang punya kuliner, atau event yang didukung platform
digital adalah contoh model hybrid. Fleksibel menghadapi musim dan perubahan
perilaku wisatawan.
Di Indonesia, pendekatan ini
paling realistis karena kondisi pasar yang tidak stabil. Ketika satu sumber
melemah, sumber lain menutup celah.
Yang bertahan lama biasanya bukan
yang paling besar, tetapi yang paling lentur.
Perbandingan
Singkat Antar Model Bisnis
Setiap model punya risiko dan peluang yang berbeda, tergantung konteks wilayah.
Model padat modal cocok
untuk destinasi mapan. Model padat ide lebih relevan untuk daerah berkembang.
Ketahanan terhadap low season ditentukan oleh kombinasi, bukan jenis tunggal.
Dalam pola bisnis sektor
pariwisata, konteks lokal lebih penting daripada tren nasional.
Cara
Menentukan Model Bisnis yang Paling Masuk Akal
Model bisnis seharusnya
lahir dari kondisi, bukan ambisi semata. Potensi lokal, pola kunjungan,
ketersediaan SDM, dan toleransi risiko harus dibaca jujur.
Tidak semua daerah cocok
dengan pariwisata massal. Tidak semua pelaku siap dengan beban tetap besar.
Bisnis pariwisata pada
akhirnya adalah seni membaca keadaan dan beradaptasi.
FAQ
1. Apa saja model bisnis pariwisata?
2. Macam-macam bisnis pariwisata?
3. Apa saja 4 tipe wisatawan?
Tidak ada model bisnis pariwisata yang paling benar. Yang ada adalah yang paling sesuai. Di situlah pariwisata diuji, bukan dari ramai pengunjung, tetapi dari kemampuan bertahan saat ramai itu pergi.
📖 Lihat Sumber Informasi dan Gambar
02. Eksplorasi Model Bisnis E-Commerce dan Penerapannya pada Industri Pariwisata - Tourism Scientific Journal
03. Model Bisnis Pariwisata - Research Gate
Referensi Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan teknologi AI.





