Model Bisnis Pariwisata yang Paling Banyak Dipakai di Indonesia

Model Bisnis Pariwisata yang Paling Banyak Dipakai di Indonesia

💡 Ringkasan Artikel: Dalam praktiknya, model bisnis pariwisata jarang sesederhana yang terlihat di permukaan. Ramai pengunjung tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan, karena yang menentukan bukan hanya apa yang dijual, tetapi bagaimana sistemnya berjalan.

Seven Star IndonesiaBisnis pariwisata hampir selalu dimulai dari keyakinan sederhana bahwa ketika orang datang, uang akan ikut mengalir.

Keyakinan ini terdengar masuk akal, sampai pelaku usaha mulai berhadapan dengan musim sepi, biaya yang terus berjalan, dan kenyataan bahwa keramaian tidak selalu sejalan dengan keuntungan. Di titik inilah model bisnis yang tepat dibutuhkan.

 

Model Bisnis Berbasis Penjualan Layanan Utama

Model ini terlihat paling “pariwisata”, tetapi justru paling rawan salah hitung. Yang dimaksud layanan utama adalah penginapan, paket wisata, dan tiket masuk destinasi.

Ini wajah paling umum dari model bisnis pariwisata, sekaligus yang paling mudah dipahami orang awam. Wisatawan datang, membeli, lalu pulang.

Masalahnya, pendapatan besar sering disertai biaya besar. Penginapan butuh perawatan rutin, SDM tetap, dan promosi berkelanjutan. Paket wisata bergantung pada musim dan harga bahan bakar. Tiket destinasi sensitif terhadap cuaca dan tren liburan.

Di banyak daerah, bisnis ini tampak ramai dari luar, tetapi margin tipis dari dalam. Tidak sedikit pelaku yang baru sadar setelah berjalan, bahwa ramai tidak selalu untung.

 

Pasar Tradisional di Desa Wisata
Pasar Tradisional di Desa Wisata

Model Bisnis Berbasis Layanan Pendukung

Bisnis ini jarang disorot, tetapi justru sering menjadi sumber uang paling konsisten.

Kuliner lokal, transportasi setempat, jasa antar-jemput, hingga penjualan oleh-oleh masuk dalam kategori ini. Dalam sistem bisnis pariwisata, layanan pendukung hidup dari arus wisata, tetapi tidak menanggung beban operasional sebesar layanan utama.

Restoran kecil di dekat destinasi bisa tetap bertahan meski kunjungan menurun, selama ada perputaran lokal. Sopir lokal mendapat pemasukan tanpa harus memikirkan okupansi kamar.

Banyak pelaku baru sadar setelah bertahun-tahun. Uang pariwisata sering datang dari yang awalnya dianggap tambahan.

 


Model Bisnis Berbasis Pengalaman Wisata

Model ini tumbuh karena wisatawan modern tidak lagi puas hanya melihat dan memotret.

Aktivitas lokal, tur tematik, workshop budaya, hingga pengalaman tinggal bersama warga menjadi inti model ini. Bukan fasilitas yang dijual, tetapi keterlibatan.

Dalam konsep bisnis pariwisata ini, skala memang kecil. Namun nilai per wisatawan biasanya lebih tinggi karena pengalaman bersifat personal dan sulit ditiru. Model ini sangat cocok untuk UMKM, desa wisata, dan pariwisata berbasis budaya.

Di sini, wisatawan membayar rasa ikut terlibat, bukan kemewahan.

Festival Budaya Bali yang Meriah
Festival Budaya Bali yang Meriah

Model Bisnis Musiman Berisiko Rendah

Model ini seringkali dipilih karena relatif aman. Sewa alat wisata, jasa foto, parkir, atau pemandu lepas hanya aktif di musim tertentu.

Biaya tetap rendah, karena bisnis bisa berhenti tanpa meninggalkan beban berat.

Dalam strategi bisnis pariwisata, model ini sering menjadi pintu masuk pelaku kecil. Tidak semua orang harus membuka usaha sepanjang tahun. Ada yang justru sehat karena tahu kapan harus berhenti. Tidak semua bisnis harus berjalan dua belas bulan.


Model Bisnis Berbasis Event dan Momentum

Event bisa mengangkat nama destinasi, tetapi jarang menjadi tulang punggung usaha.

Festival budaya, agenda tahunan daerah, dan event tematik mampu menarik lonjakan pengunjung. Dampaknya terasa cepat, tetapi juga cepat mereda.

Model bisnis ini membutuhkan perencanaan matang karena biaya persiapan tinggi dan hasilnya tidak selalu sebanding. Banyak daerah sukses mengangkat citra lewat event, tetapi gagal menjaga keberlanjutan ekonomi setelahnya.

Event penting, namun lebih tepat sebagai pemantik, bukan sandaran.

 

Model Bisnis Platform dan Perantara

Model ini tidak memiliki aset wisata, tetapi mengendalikan arus transaksi. Travel agent, OTA, dan marketplace wisata bekerja dengan komisi. Mereka tidak membangun destinasi, tetapi menghubungkan penawaran dan permintaan.

Dalam model bisnis pariwisata digital, kekuatan ada pada jaringan, data, dan kepercayaan. Risiko fisik kecil, tetapi ketergantungan pada volume sangat tinggi.

Ketika arus melambat, pendapatan ikut tersendat. Bisa dilihat, di sini berlaku hukum tak tertulis “siapa menguasai arus, ia memegang kendali”.

 

Model Bisnis Kolaboratif Lokal

Model ini kuat secara sosial, tetapi sering rapuh secara manajemen. Desa wisata, koperasi, dan komunitas pariwisata mengandalkan kerja bersama dan sistem bagi hasil. Nilai utamanya ada pada partisipasi warga dan keberlanjutan.

Namun dalam pengembangan model bisnis pariwisata berbasis komunitas, tantangan muncul di koordinasi, pembagian peran, dan konsistensi kualitas layanan.

Model ini kuat di akar, lemah di pengelolaan, jika tidak didampingi dengan baik.

 
Desa Wisata Ramai dengan Wisatawan
Desa Wisata Ramai dengan Wisatawan

Model Bisnis Hybrid Paling Umum Dipakai

Di lapangan, hampir tidak ada bisnis pariwisata yang murni satu model.

Penginapan yang menjual pengalaman, desa wisata yang punya kuliner, atau event yang didukung platform digital adalah contoh model hybrid. Fleksibel menghadapi musim dan perubahan perilaku wisatawan.

Di Indonesia, pendekatan ini paling realistis karena kondisi pasar yang tidak stabil. Ketika satu sumber melemah, sumber lain menutup celah.

Yang bertahan lama biasanya bukan yang paling besar, tetapi yang paling lentur.

 


Perbandingan Singkat Antar Model Bisnis

Setiap model punya risiko dan peluang yang berbeda, tergantung konteks wilayah.

Model padat modal cocok untuk destinasi mapan. Model padat ide lebih relevan untuk daerah berkembang. Ketahanan terhadap low season ditentukan oleh kombinasi, bukan jenis tunggal.

Dalam pola bisnis sektor pariwisata, konteks lokal lebih penting daripada tren nasional.

 

”Sevenstar

Cara Menentukan Model Bisnis yang Paling Masuk Akal

Model bisnis seharusnya lahir dari kondisi, bukan ambisi semata. Potensi lokal, pola kunjungan, ketersediaan SDM, dan toleransi risiko harus dibaca jujur.

Tidak semua daerah cocok dengan pariwisata massal. Tidak semua pelaku siap dengan beban tetap besar.

Bisnis pariwisata pada akhirnya adalah seni membaca keadaan dan beradaptasi.

 

FAQ

1. Apa saja model bisnis pariwisata?
Model bisnis pariwisata meliputi penjualan layanan utama seperti penginapan dan paket wisata, layanan pendukung seperti kuliner dan transportasi, bisnis berbasis pengalaman, model musiman, model event, platform atau perantara, kolaborasi komunitas, serta model hybrid yang menggabungkan beberapa pola sekaligus.
2. Macam-macam bisnis pariwisata?
Bisnis pariwisata mencakup akomodasi, biro perjalanan, transportasi wisata, kuliner dan oleh-oleh, pemandu wisata, event dan festival, desa wisata, serta platform digital pariwisata.
3. Apa saja 4 tipe wisatawan?
Empat tipe wisatawan yang umum adalah wisatawan massal, wisatawan minat khusus, wisatawan pencari pengalaman, dan wisatawan digital yang mengandalkan platform online dalam merencanakan perjalanan.

Tidak ada model bisnis pariwisata yang paling benar. Yang ada adalah yang paling sesuai. Di situlah pariwisata diuji, bukan dari ramai pengunjung, tetapi dari kemampuan bertahan saat ramai itu pergi.


📖 Lihat Sumber Informasi dan Gambar
Referensi Tulisan: 01. Mengenal 5 Model Bisnis Terbaik di Industri Pariwisata - UPI Magister Pariwisata
02. Eksplorasi Model Bisnis E-Commerce dan Penerapannya pada Industri Pariwisata - Tourism Scientific Journal
03. Model Bisnis Pariwisata - Research Gate
Referensi Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan teknologi AI.
✍️ Ditulis oleh  Asher Angelica (ica)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *